Luka dan Kasih Universal
| Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus, Sang juru selamat dunia memang telah berlalu, tapi semangatnya tidak boleh pudar, semangat itu harus tetap dihati dan menjadi ruh hidup dan keseharian kita. Semangat itu adalah semangat kasih. Kasih untuk memberi warna ceria pada kehidupan mereka yang tersingkir dan terhempas. Kasih bagi mereka yang haknya terampas dan dimiskinkan. Sekalipun natal hanya diperingati oleh kaum Nasrani, tapi semangat kasihnya tidak boleh hanya dinikmati oleh kaum Nasrani sendiri. Justru pada saat semangat kasih itu menjadi klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim) menjadi ekslusif, maka pada saat itulah natal mengalami penyimpangan dan penyelewengan. Bila natal kehilangan semangat kasihnya, maka natal bukan lagi natal tapi hanya sebatas ritual tanpa ruh, natal hanya menjadi seremoni. Padahal inspirasi natal adalah napak tilas kelahiran Sang juru selamat yang datang untuk menyelamatkan hidup umat manusia. “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam kelimpahan (Yohanes 10: 10b)” Sebagaimana kelahiran pada umumnya, kelahiran Yesus juga disertai dengan derita, namun bukankah setiap kelahiran juga berarti harapan? Maka kelahiran Yesus menjadi harapan dan sinar masa depan yang cemerlang bagi peradaban manusia. Tapi itu semua hanya bila natal tidak kehilangan kasih-Nya. Luka Natal; Luka Universal Setahun yang lalu, sehari setelah natal dirayakan dan kasih-Nya diagung-agungkan, mata kita terbelalak ketika menyaksikan sebuah peristiwa duka dalam sejarah bangsa ini. Duka yang menorehkan luka yang demikian dalam dan perih. Luka itu hadir bersama tsunami, ketika laut kehilangan rasa bersahabatnya dan dengan beringas melahap semua yang menghalanginya menyambangi daratan. Puluhan ribu manusia terseret arus laut yang beringas, bangunan, kendaraan dan apapun yang ditemuinya dipaksa untuk ikut larut-hanyut. Ini adalah sebuah ujian dan cobaan bagi kita semua apakah semangat kasih natal benar-benar telah merasuk ke jiwa kita atau hanya sebatas kulit. Kita dituntut untuk menebar damai dan menyemai kasih tanpa harus bertanya anda beragama apa. Dan tuntutan itu telah kita buktikan dengan baik, kita bahu membahu, tanpa peduli kita merayakan natal atau tidak, damai dan kasih telah kita sebarkan di bumi Nangroe Aceh Darussalam. Sebaran kasih itu telah menjadi harapan baru, seumpama sebuah kelahiran, mata anak-anak kembali bisa berbinar untuk menatap masa depannya, bahwa tsunami bukanlah akhir dari segalanya melainkan sebuah tonggak yang mengingatkan kita bahwa damai dan kasih adalah harapan bagi kita semua, manusia. Kalau tsunami menjadi ajang pembuktian akan ajaran kasih dan damai universal yang menjadi ruh dan spirit natal, maka ada tahun ini, kelaparan di Papua menjadi ujian berikutnya. Luka ini begitu membuat kita miris, ditengah merebaknya kasus korupsi uang negara yang dilakukan oleh para elite, di sudut negeri kita yang lain justru dilanda kelaparan yang begitu akut. Bahkan perayaan natal menyibukkan kita semua untuk fokus bukan pada persoalan bagaimana kasih dan damai disebarkan untuk semua manusia, melainkan bagaimana keamanan seputar perayaan natal. Realitas ini, seharusnya membuat kita semua melakukan refleksi, ada apa dengan natal sehingga perayaannya harus dijaga demikian ketat? Apa sudah begitu dalamnya rasa saling curiga itu mengakar? Atau jangan-jangan kita semua masih berfikir sempit dalam penjara teologi. Sehingga iman kitapun bukan lagi iman yang sesungguhnya melainkan sebatas iman teologis dan bukan iman yang dihayati. Justru penjagaan yang ketat membuat ekspresi kasih natal menjadi ekslusif dan sekedar ritus. Natal hanya menjadi milik kaum Nasrani yang minoritas, padahal seharusnya, damai natal merasuk dan membelai setiap jiwa-jiwa kita semua,. kidung suci seharusnya menjadi siraman rohani terutama bagi kita yang mengaku sebagai manusia yang beradab. Alangkah mulianya bila kita tidak terjebak pada pemahaman natal yang sempit sebatas ritus. Tentu dengan semangat kasih dan damai natal kita bisa mendorong sebuah upaya bersama untuk membangun sebuah tata kehidupan yang lebih bermartabat. Yang lebih penting diatas semua itu adalah bagaimana saudara-saudara kita yang dilanda bencana seperti kelaparan di Papua dapat turut merasakan kasih dari saudaranya. Kasih Natal; Kasih Universal Sebagai seorang muslim saya mencoba memposisikan natal sebagai sebuah praktek keagamaan dalam konteks sosial. Natal selayaknya tidak dipandang dari sudut pandang yang melulu teologis, melainkan seharusnya kita mencoba memandangnya dari sudut pandang sosiologis bahkan humanis. Ini dimaksudkan karena bila natal dipandang dari sudut tologis, maka natal dan kasihnya menjadi hak ekslusif kaum Nasrani. Dengan memandang natal dari sudut pandang sosiologis, maka yang dikedepankan adalah dimensi kemanusiaan yang bersifat universal. Ini berarti bahwa kasih natal adalah hak semua manusia. Sehingga dapat dipahami dan dihayati dengan baik bahwa Yesus sebagai juru selamat tidak hadir untuk menebar kasih hanya untuk kaum Nasrani, melainkan untuk semua umat manusia. Olehnya itu, melalui momen natal 2005, saya menyampaikan kepada saudaraku kaum Nasrani bahwa kasih natal selayaknya disebarluaskan kepada setiap diri manusia, tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama dan status sosial seseorang. Jangan sampai ada yang merasa bahwa Tuhan tidak lagi mau bersama mereka yang luka, miskin, kumuh dan dilanda kepahitan hidup. Bila damai dan kasih natal dapat kita tularkan kepada setiap manusia, maka sungguh berarti firman Tuhan kepada manusia yang senantiasa dirundung duka dan kemalangan “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam kelimpahan (Yohanes 10: 10b)”. Semangat kasih dan damai Natal mengajari kita bahwa Tuhan selamanya akan berpihak dan menyertai orang-orang yang hidupnya luka, miskin, kumuh dan dilanda kepahitan. Selanjutnya! |
