semua hanyalah timbunan kata-kata, yang alih-alih memperkaya pemahaman, malah menjebak makna dalam aksara

Wednesday, November 29, 2006

Luka dan Kasih Universal

Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus, Sang juru selamat dunia memang telah berlalu, tapi semangatnya tidak boleh pudar, semangat itu harus tetap dihati dan menjadi ruh hidup dan keseharian kita. Semangat itu adalah semangat kasih. Kasih untuk memberi warna ceria pada kehidupan mereka yang tersingkir dan terhempas. Kasih bagi mereka yang haknya terampas dan dimiskinkan.

Sekalipun natal hanya diperingati oleh kaum Nasrani, tapi semangat kasihnya tidak boleh hanya dinikmati oleh kaum Nasrani sendiri. Justru pada saat semangat kasih itu menjadi klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim) menjadi ekslusif, maka pada saat itulah natal mengalami penyimpangan dan penyelewengan.

Bila natal kehilangan semangat kasihnya, maka natal bukan lagi natal tapi hanya sebatas ritual tanpa ruh, natal hanya menjadi seremoni. Padahal inspirasi natal adalah napak tilas kelahiran Sang juru selamat yang datang untuk menyelamatkan hidup umat manusia. “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam kelimpahan (Yohanes 10: 10b)”

Sebagaimana kelahiran pada umumnya, kelahiran Yesus juga disertai dengan derita, namun bukankah setiap kelahiran juga berarti harapan? Maka kelahiran Yesus menjadi harapan dan sinar masa depan yang cemerlang bagi peradaban manusia. Tapi itu semua hanya bila natal tidak kehilangan kasih-Nya.

Luka Natal; Luka Universal
Setahun yang lalu, sehari setelah natal dirayakan dan kasih-Nya diagung-agungkan, mata kita terbelalak ketika menyaksikan sebuah peristiwa duka dalam sejarah bangsa ini. Duka yang menorehkan luka yang demikian dalam dan perih. Luka itu hadir bersama tsunami, ketika laut kehilangan rasa bersahabatnya dan dengan beringas melahap semua yang menghalanginya menyambangi daratan.

Puluhan ribu manusia terseret arus laut yang beringas, bangunan, kendaraan dan apapun yang ditemuinya dipaksa untuk ikut larut-hanyut. Ini adalah sebuah ujian dan cobaan bagi kita semua apakah semangat kasih natal benar-benar telah merasuk ke jiwa kita atau hanya sebatas kulit. Kita dituntut untuk menebar damai dan menyemai kasih tanpa harus bertanya anda beragama apa.

Dan tuntutan itu telah kita buktikan dengan baik, kita bahu membahu, tanpa peduli kita merayakan natal atau tidak, damai dan kasih telah kita sebarkan di bumi Nangroe Aceh Darussalam. Sebaran kasih itu telah menjadi harapan baru, seumpama sebuah kelahiran, mata anak-anak kembali bisa berbinar untuk menatap masa depannya, bahwa tsunami bukanlah akhir dari segalanya melainkan sebuah tonggak yang mengingatkan kita bahwa damai dan kasih adalah harapan bagi kita semua, manusia.

Kalau tsunami menjadi ajang pembuktian akan ajaran kasih dan damai universal yang menjadi ruh dan spirit natal, maka ada tahun ini, kelaparan di Papua menjadi ujian berikutnya. Luka ini begitu membuat kita miris, ditengah merebaknya kasus korupsi uang negara yang dilakukan oleh para elite, di sudut negeri kita yang lain justru dilanda kelaparan yang begitu akut. Bahkan perayaan natal menyibukkan kita semua untuk fokus bukan pada persoalan bagaimana kasih dan damai disebarkan untuk semua manusia, melainkan bagaimana keamanan seputar perayaan natal.

Realitas ini, seharusnya membuat kita semua melakukan refleksi, ada apa dengan natal sehingga perayaannya harus dijaga demikian ketat? Apa sudah begitu dalamnya rasa saling curiga itu mengakar? Atau jangan-jangan kita semua masih berfikir sempit dalam penjara teologi. Sehingga iman kitapun bukan lagi iman yang sesungguhnya melainkan sebatas iman teologis dan bukan iman yang dihayati.

Justru penjagaan yang ketat membuat ekspresi kasih natal menjadi ekslusif dan sekedar ritus. Natal hanya menjadi milik kaum Nasrani yang minoritas, padahal seharusnya, damai natal merasuk dan membelai setiap jiwa-jiwa kita semua,. kidung suci seharusnya menjadi siraman rohani terutama bagi kita yang mengaku sebagai manusia yang beradab.

Alangkah mulianya bila kita tidak terjebak pada pemahaman natal yang sempit sebatas ritus. Tentu dengan semangat kasih dan damai natal kita bisa mendorong sebuah upaya bersama untuk membangun sebuah tata kehidupan yang lebih bermartabat. Yang lebih penting diatas semua itu adalah bagaimana saudara-saudara kita yang dilanda bencana seperti kelaparan di Papua dapat turut merasakan kasih dari saudaranya.

Kasih Natal; Kasih Universal
Sebagai seorang muslim saya mencoba memposisikan natal sebagai sebuah praktek keagamaan dalam konteks sosial. Natal selayaknya tidak dipandang dari sudut pandang yang melulu teologis, melainkan seharusnya kita mencoba memandangnya dari sudut pandang sosiologis bahkan humanis. Ini dimaksudkan karena bila natal dipandang dari sudut tologis, maka natal dan kasihnya menjadi hak ekslusif kaum Nasrani.

Dengan memandang natal dari sudut pandang sosiologis, maka yang dikedepankan adalah dimensi kemanusiaan yang bersifat universal. Ini berarti bahwa kasih natal adalah hak semua manusia. Sehingga dapat dipahami dan dihayati dengan baik bahwa Yesus sebagai juru selamat tidak hadir untuk menebar kasih hanya untuk kaum Nasrani, melainkan untuk semua umat manusia.

Olehnya itu, melalui momen natal 2005, saya menyampaikan kepada saudaraku kaum Nasrani bahwa kasih natal selayaknya disebarluaskan kepada setiap diri manusia, tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama dan status sosial seseorang. Jangan sampai ada yang merasa bahwa Tuhan tidak lagi mau bersama mereka yang luka, miskin, kumuh dan dilanda kepahitan hidup.

Bila damai dan kasih natal dapat kita tularkan kepada setiap manusia, maka sungguh berarti firman Tuhan kepada manusia yang senantiasa dirundung duka dan kemalangan “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam kelimpahan (Yohanes 10: 10b)”. Semangat kasih dan damai Natal mengajari kita bahwa Tuhan selamanya akan berpihak dan menyertai orang-orang yang hidupnya luka, miskin, kumuh dan dilanda kepahitan.



Selanjutnya!

Tuesday, November 07, 2006

Matinya Makna Lebaran

Ramadhan sebulan penuh telah berlalu, rangkaian program ibadah mulai dari puasa, tarwih sampai tadarus dan i’tikaf telah dijalani dengan sempurna oleh orang muslim yang beriman. Diakhir senja ramadhan, menyingsinglah malam satu syawal yang merupakan hari dimana saat yang tepat untuk melantunkan takbir, tahlil dan tahmid tanda kemenangan. Tentu kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dan keberhasilan menuntaskan ibadah ramadhan dengan sempurna.

Satu syawal merupakan hari yang paling dinanti-nanti oleh umat muslim yang berpuasa, datangnya hari raya iedul fitri atau juga sering disebut lebaran. Secara normative, lebaran merupakan tanda bagi tiga hal, pertama sebentuk ungkapan syukur, kedua tanda telah genap dan sempurnanya jumlah hitungan hari puasa dan ketiga sebagai bentuk pengagungan atas nama Tuhan. Al Qur’an sudah menggariskan, “dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (Q.S. 2:185)”

Dari ayat ini terlihat bahwa tujuan utama dari idul fitri adalah sebagai sebentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat ramadhan yang telah dianugerahkan kepada kaum muslimin. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa untuk bisa dikategorikan bersyukur, maka kaum muslimin hendaknya mencukupkan bilangan puasanya dan yang lebih penting lagi adalah mengagungkan asma Allah.

Bulan ramadhan telah menjadi sarana yang efektif bagi kaum muslimin untuk mensucikan diri dan kembali seperti fitrah penciptaan awalnya, fitrah sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, fitrah sebagai makhluk spiritual. Dalam ramadhan, manusia dituntut untuk puasa, tarwih, tadarus dan i’tiqaf sebagai sebentuk upaya mengendalikan nafsu komsumtif dan materialistik manusia yang demikian berlebih.

Tentu patut digaris bawahi bahwa lebaran bukan malah sebaliknya menjadi ajang pelampiasan kemerdekaan yang tak jelas juntrungannya. Juga bukan ajang balas dendam hewani atas keterpenjaraan atas nafsu yang telah berlangsung selama sebulan penuh. Lebaran justru sebentuk pernyataan bahwa rasa syukur, juga berarti sebentuk pernyataan bahwa apa yang telah dicapai harus bisa dipertahankan bahkan malah dipertahankan pada hari-hari berikutnya.

Realitas Lebaran
Satu hal yang begitu menggiriskan hati ketika berbicara tentang relitas lebaran adalah bahwa lebaran telah mengalami penyimpangan dan penyelewengan makna yang demikian jauh dari hakekat awalnya. Jangankan pada hari lebarannya, penyimpangan itu malah telah terjadi sepanjang ramadhan berlangsung. Meminjam hasil penelitian terhadap konsumsi massa dalam hari-hari besar Islam yang dilakukan oleh seorang antropolog amerika, Walter Armbrust, mengindikasikan adanya kesenjangan antara prilaku umat islam dan nilai yang menjadi tujuan ibadah puasa.

Menurut Armbruts, pola konsumsi yang diharapkan lewat puasa dapat dikontrol justru semakin liar dan tak terkendali. Bahkan bulan yang siangnya diisi dengan tidak makan dan tidak minum, justru pada malam hari kegiatan konsumsi ini semakin menjadi-jadi. Bukankah ini merupakan sebentuk pembangkangan besar atas wahyu? Puasa yang bertujuan untuk mengendalikan nafsu konsumtif dan materialistik manusia, justru bekerja dengan logika terbalik, malah meningkatkan derajat nafsu konsumtif dan materialistik orang-orang yang berpuasa.

Pada hari-hari menjelang lebaran, masjid menjadi kian lengang jama’ah dan yang ramai bahkan sesak didatangi oleh jama’ah adalah mall, supermarket dan trade centre. Bukannya makin khusyu dalam sujud panjang dimalam-malam akhir ramadhan, umat Islam malah tenggelam dalam arus hingar-bingar penyambutan lebaran yang kehilangan substansi. Bukannya menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan asma Allah, mereka malah sibuk memilih pakaian baru dan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan lebaran yang begitu berlebihan.

Umat Islam telah menciderai hakekat puasa sebagai tolok ukur keimanan dan ketakwaan kepada Allah, bahkan mereka telah melupakan perintah Allah untuk bisa mengendalikan nafsu konsumtif dan materialistik. Mereka justru telah melakukan aktivitas yang sesungguhnya hanya pantas dilakukan dan dikerjakan oleh orang-orang kafir. Sebagaimana dengan tegas dilukiskan oleh Al Qur’an, “dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang... (QS. 47:12).”

Dari relitas umat Islam ini, Armbrust kemudian berkesimpulan bahwa proses chrismasization telah menulari kegiatan hari besar umat Islam. menurutnya chrismasization sebagai bentuk konsumerisme natal sebagaimana yang terjadi di masyarakat barat dan telah berlangsung begitu lama serta berkesinambungan, kini juga telah merambah kedalam masyarakat Islam dalam menyambut hari-hari besar agamanya.

Lebaran sebagai sebentuk perayaan yang sarat dengan nilai sakralitas kekeluargaan dan persaudaraan, kini kian pudar dan digeser oleh arus konsumerisme dan gaya hidup, nilai lebaran kian hambar. Rasa syukur pada hari lebaran tidak lagi diekspresikan dalam sebentuk ungkapan pengagungan Allah dan tindakan saling memuliakan sesama serta keinginan untuk berbagi.

Dengan demikian telanjang, lebaran kita kita saksikan tidak lebih dari sebuah proses konsumsi tanda-tanda yang mendukung prestise dan gengsi sosial seseorang. Nilai lebaran diukur dari tingkat kemahalan serta model baju koko yang dikenakan, juga dari jilbab model apa yang dipakai. Manusia tidak lagi diperlakukan berdasarkan kemuliaan fitrah yng dimilikinya dari Tuhan melainkan dari pola dan mode konsumsi serta gaya hidup yang diaktualisasikannya.

Faktor utama yang menyebabkan terjadinya proses chrismasization pada lebaran yang mulia ini adalah secara internal, pemahaman umat atas makna dan hakekat lebaran begitu dangkal. Hal ini diperparah dengan serbuan informasi keagamaan yang bersifat instan dan tidak komprehensif dari media, terutama media elektronik seperti televisi. Selama sebulan penuh sepanjang ramadhan televisi kita dipenuhi dengan serangkaian acara yang bernuansa ramadhan namun sesungguhnya sangat bersifat remeh-temeh.

Sejak dari waktu sahur sampai tengah malam, masyarakat disuguhi oleh siaran-siaran yang berbau lawakan, parodi, kuis dan sejenisnya yang bukannya meningkatkan pemahaman masyarakat secara mendalam terhadap hakikat puasa, malah sebaliknya membuat penyelewengan makna besar-besaran. Momen puasa menjadi komoditas yang begitu laku untuk dijual oleh para produser siaran tanpa peduli yang mereka lakukan meningkatkan pemahaman ummat atau malahsebaliknya, sebentuk pembodohan.

Memaknai Ulang Lebaran
Untuk menyelamatkan lebaran dan mengembalikan pada fungsi dan makna yang sebenarnya, maka dibutuhkan sebuah kerja keras oleh para pemimpin umat dan tentu kerjasama dari berbagai pihak yang bisa mempengaruhi pemahaman keagamaan masyarakat. Kalau diperhatikan dengan baik, dapat disaksikan bahwa proses pendangkalan dan penyelewengan makna puasa atau chrismasization terjadi karena pada hari ini perbincangan agama lebih bersifat konseptual daripada realitas konkrit.

Perbincangan keagamaan sudah semakin jauh dari keprihatinan dan rasa peduli terhadap realitas sosial. Puasa sebagai sebentuk ibadah sudah kehilangan fungsi horisontalnya, dan mengalami penyempitan makna sebagai sekedar ritual personal yang tidak ada sangkut pautnya dengan realitas di sekelilingnya. Seorang yang berpuasa tidak mengalami transformasi kesadaran untuk menjadi lebih peduli sebagaimana yang dikehendaki oleh perintah puasa, taqwa.

Seharusnya perbincangan tentang taqwa sebagai tujuan akhir puasa dikemas dalam nuansa yang lebih realistis bahwa kunci menuju takwa adalah menegakkan keadilan dan menjauhi kedzoliman. Bahwa lebaran sebagai proklamasi sampainya seorang manusia pada titik takwa setelah melewati perjuangan melawan nafsu hewani selama sebulan penuh berarti bahwa dia menjadi lebih adil, lebih beradab dan lebih bijaksana serta peduli dengan realitas sosial yang masih penuh dengan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan umat sebagai efek dari sistemsosial yang timpang dan jauh dari rasa keadilan.

Salah satu hal yang juga penting untuk diluruskan adalah tentang zakat, selayaknya zakat fitrah sebagai kewajiban yang harus ditunaikan sebelum lebaran selayaknya tidak dimaknai dengan begitu simbolik bahwa setelah mengeluarkan zakat maka seseorang sudah terbebas dari kewajiban dan tanggungjawab sosial atas penderitaan sesama. Karena kalau diperhatikan pada masa rasulullah dan para sahabatnya, zakat tidak pernah menjadi demikian istimewa dan jarang diperbincangkan.

Apalah arti zakat dalam merubah derajat kemiskinan dan penderitaan sesama bila dibandingkan dengan infaq dan sadakah? Muhammad SAW dengan para sahabatnya telah mencontohkan bahwa mereka begitu jarang membincang zakat karena bagi mereka zakat merupakan suatu keharusan. Yang seharusnya menjadi sebuah aksi sosial spektakuler adalah pengorbanan dalam bentuk infaq dan sadakah, dan ini yang belum begitu diberdayakan. Umat masih terjebak aspek-aspek formalitas dalam hal ini, lebih mengedepankan kewajiban zakat yang jumlahnya terbatas dibanding infaq dan sadakah yang justru lebih mampu menunjukkan tingkat keikhlasan dan kerelaan seseorang untuk berkorban.

Lebaran sebagai proklamasi untuk kembali, berarti komitmen untuk mengurusi sesama manusia dan bukannya terlena dalam jebakan ritualitas ibadah. Bentuk pengagungan asma Allah yang paling afdhol dalam lebaran adalah membuat-Nya diingat dan disebut dalam dzikir orang-orang duafa yang merasa bahwa kebesaran Allah tidak pernah meninggalkan mereka, tentu melalui tangan orang-orang yang telah melaksanakan puasa dengan sempurna.

Selanjutnya!

Thursday, November 02, 2006

Simulakra; Dunia Tanpa Asal Usul

Manusia, secara eksistensial, selain memiliki kesadaran akan keberadaannya di tengah-tengah dunia, mereka juga menyadari keberadaannya bersama dengan dunia. Ini berarti bahwa manusia bukan merupakan makhluk yang hanya tinggal menjalani hidup ini tanpa kebebasan untuk memilih, melainkan, manusia menjadi makhluk yang sadar bahwa arah dan warna serta esensi keberadaannya bersama dunia ditentukan dengan pilihan-pilihan hidup yang dijalaninya. Karena hal inilah, maka manusia dikenal sebagai makhluk budaya, karena segala tindakan dan aksi manusia dalam hidupnya merupakan sesuatu yang dilakukan atas dasar pilihan dan bukan sesuatu yang “given”.

Namun dalam kenyataannya, keberadaan manusia di dunia ini sebagai makhluk budaya, seringkali mengalami keterasingan eksistensial, hal ini karena kebebasan untuk membentuk dan menformat seperti apa hidup dan kehidupan yang diinginkan oleh seorang manusia tidak lagi menjadi pilihan bebasnya, melainkan di bentuk berdasarkan tekanan dari kekuatan-kekuatan “wacana” tertentu yang menguasai tidak secara represif, sehingga terkesan sebagai sesuau yang begitu alami dan lumrah.

Kondisi ini digambarkan oleh Jean Baudrillard, sebagai situasi hyper-reality. Hiperrealitas, menurutnya adalah bangunan model-model realitas yang tidak memiliki asal-usul. Kondisi hiperrealitas merupakan hasil kerja dari sebuah model produksi kebudayaan yang disebut Simulasi. Sementara itu simulasi itu sendiri merupakan sebuah upaya transformasi gambaran tentang dunia melalui bangunan-bangunan imajinasi. Proses simulasi menggiring manusia untuk merasa bahwa mereka memasuki sebuah ruang realitas yang dirasa nyata dan lebih baik padahal sesungguhnya ruang realitas itu hanyalah citra dan khayalan semu semata.

Bangunan wacana/ruang realitas yang ditawarkan melalui simulasi, akan menjadi referensi bagi masyarakat manusia dalam membangun realitasnya, sehingga pola hubungan antara ruang realitas semu yang menjadi referensi (the model) menjadi begitu cair dan lebur dengan realitas sesungguhnya (the real).

Secara sederhana, model simulasi ini dapat kita fahami secara lebih jelas dan terang melalui konsep representasi budaya. Konsep ini coba di teoritisasi oleh Stuart Hall, beliau menganggap bahwa representasi merupakan salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan. Sebagaimana ditulis oleh Nuraini Juliastuti, representasi adalah konsep yang mempunyai beberapa pengertian, ia adalah proses sosial dari “representing”, Ia juga produk dari proses sosial "representing”, representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda, representasi juga bisa berarti proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk-bentuk yang kongkret.

Konsep representasi itu sendiri dapat dipetakan menjadi dua macam berdasarkan nilai kejujuran, reliabilitas dan ketepatan hubungan antara tanda dan citra dengan realitas yang diwakilinya, yaitu true representation (representasi) dan false representation atau simulation (simulasi). Dalam pemetaan ini dengan jelas terlihat bahwa simulasi merupakan representasi palsu.

Kalau dalam perspektif Jorge Luis Borges, representasi dianalogikan dengan peta yang merupakan representasi teritori, dimana proses representasinya menunjukkan bahwa teritori mendahului peta, maka untuk menjelaskan simulasi, Baudrillard juga menggunakan analogi peta, tetapi dalam proses representasi yang terbalik atau menempatkan peta mendahului teritori dalam artian bahwa peta terlebih dahulu ada sebelum teritori.

Sementara itu, istilah simulakra merupakan istilah untuk menunjukkan sebuah kondisi simulasi yang sudah demikian akut. Artinya bahwa sebuah tanda, ikon, simbol dan citra yang ditampakkan bukan saja tidak memiliki referensi dalam realitas, malah tanda, ikon, simbol dan citra yang dilahirkan dan dan dianggap sebagai representasi dari tanda, ikon, simbol dan tanda yang juga merupakan hasil dari simulasi. Peta mereferensikan dirinya pada peta itu sendiri, sebuah posisi self referential.

Nah, kalau kemudian penciptaan budaya manusia diserahkan kepada proses simulasi, bahkan sampai pada tahap atau etape simulakra, maka manusia akan bermain dalam sebuah dunia parody, dunia tanpa asal usul, dunia yang tidak lagi mementingkan orisinalitas dan keaslian. Dalam dunia ini manusia dibuat untuk meragukan reaitas yang “nyata”. Tanda, citra, ikon dan simbol yang diciptakan menjadi lebih nyata dari kenyataan yang sesungguhnya. Hal ini sejalan dengan apa yang di proklamirkan oleh Roland Barthes, the death of author.

Dengan gamblang, Yasraf Amir Piliang, melukiskan bekerjanya simulakra ini dalam sebuah proses sosial yang di sebutnya sebagai proses diseminasi sosial (social dissemination). Proses diseminasi sosial merupakan proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial, tanda, citra, informasi dan tanda-tanda komoditas yang berkembangbiak secara seketika (instanta neousness), mengikuti model pertumbuhan kode genetika (genetic code).

Dalam menanggapi kondisi simulakra ini, sebagian orang mengalami histeria. Histeria dan ketakutan yang muncul, terbangun karena kekhawatiran akan hilangnya hal-hal yang “nyata” dan terbalut oleh lapisan-lapisan citra yang tidak berujung pangkal, juga perasaan begitu rumitnya merumuskan jati diri dalam dunia yang seperti itu dan bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi bahwa roses simulasi ini dapat menjadi senjata utama dari proses hegemoni.

Namun disisi lain, sebagian orang menikmatinya dengan sadar dan dengan kegembiraan yang meluap-luap, hal ini karena mereka percaya bahwa dunia simulakra adalah dunia parody, dan ketakutan akan situasi hegemoni tidak perlu ada, hal ini karena pada dasarnya setiap manusia yang bermain dalam dunia simulakra adalah manusia yang memiliki kesadaran dan bebas dalam melakukan pilihan tanda, citra, ikon dan simbol, serta bebas melakukan interpretasi atas tanda, citra, ikon dan simbol yang dipilihnya.

Dunia simulakra menjadi sebuah mediasi, sebagaimana R. Kristiawan bahwa mediasi adalah dunia dimana segala macam simbol dari berbagai latar identitas budaya bisa saling bertemu Hasil interaksi antar simbol itu akan bersintesis dan menemukan bentuk ekspresi baru. Bentuk baru itu ada dalam spektrum yang amat luas dan tidak melulu hegemonik.

Tampaknya kearifan akan menjadi senjata utama dalam mengatasi semua ini, dimana kita dituntut untuk lebih mampu mengambil manfaat dari situasi apapun yang kita hadapi dibanding hanya mengeluh dan mengadu namun tidak mampu melakukan apa-apa. Selamat datang di dunia simulakra, sebuah dunia tanpa asal usul, namun juga merupakan dunia mediasi, dimana asal dan usul dipasarkan secara bebas dan merdeka serta lebih jernih dibanding hegemoni.

1. Noviani, Ratna. Jalan Tengah Memahami Iklan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Juli 2002.
2. Juliastuti, Nuraini. Representasi, www.kunci.or.id
3. Kristiawan, R. Mediasi : Fakta Pasca Hegemoni, www.kunci.or.id
4. Piliang, Yasraf Amir. Kompas, 9 November 2001


Selanjutnya!