[09.03.2014] Namaku Singkeru’, panggil
saja begitu. Terdengar simpel kan? Orangtuaku memberi nama yang lumayan panjang
dan indah, namun saya tidak akan memberitahukannya kepada kalian, cukuplah
panggil saya Singkeru’. Dipanggil Singkeru’ sangat membuatku bangga, sebuah nama
yang kental dengan nuansa etnik.
Berbicara persoalan nama, saya jadi
teringat dengan cerita seorang kawan yang namanya tak ingin disebutkan kepada
kalian. Kawan itu menceritakan kepada saya sebuah kisah tentang orang yang dia kenal
dengan nama yang lebih panjang dari namaku.
“Kau tahu Singkeru’? Ada temanku toh, Mela
namanya,” cerita kawanku.
“Ah, pendeknya ji, malah lebih pendek
dari namaku. Singkeru’ jelas sekali lebih panjang dari Mela.”
“Jangko senang dulu, itu baru nama
panggilannya”
“Siapa bede’ nama sebenarnya? Jangko buat
penasaran bela!” Ujarku memburu jawaban.
“Mauko tahu nama panjangna Mela? Dia bernama
lengkap Melati Harum Mewangi Sepanjang Hari di Lembah Mandalawangi. Panjang toh?”
“Iyyo tawwa, panjangna.”
“Tapi belumpi seberapa itu Singkeru’.”
Ujar kawan itu lagi.
“Hah...??? Masih ada yang lebih panjang
dari itu?”
“Iya, namanya Dian.”
“Bagus tawwa namanya, tapi nama lengkapnya?
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang
ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
“Apa hubungan antara nama lengkapnya
Dian dengan peribahasa yang kau bilang itu?”
“Itu nama lengkapnya Dian.”
“Itu nama lengkapnya Dian.”
“Peribahasa itu? Di mana nyambungnya? Balle-balleko
pasti toh?”
“Seriuska inie, itu di kata terakhir, KEMUDIAN.
Dia ambil empat huruf terakhir untuk jadi nama panggilannya, DIAN.”
Kawan saya yang tidak mau namanya dipublikasikan
tersebut, terus saja berceloteh tentang berbagai nama kenalannya yang panjang
dan unik. Dia memang punya banyak kenalan, maklum dia pernah berprofesi sebagai
penjual Jalangkote’ keliling sejak di Sekolah Dasar sampai sekarang, Sekolah Menengah Umum.
Nah, asal-usul sampai kawan saya ini
berjualan jalangkote’ juga lumayan panjang, berliku dan berkelok. Baiklah, saya
ceritakan sedikit kepada kalian, semoga ceritanya tidak membosankan. Kalaupun
kalian mendengarkannya, tutup saja telinga kalian atau putar musik dengan
volume tinggi sehingga cerita saya tidak terdengar oleh kalian. Tapi entah
kenapa saya yakin kalian penasaran dengan kisah kawanku ini, jadi aku ceritakan
saja.
Berawal dari sifat bengalnya yang tak
ketulungan, disitulah sejarahnya sebagai penjual Jalangkote’ keliling bermula.
Suatu hari, kawanku itu tak sengaja menabrak seorang anak penjual Jalangkote’
keliling dengan sepeda tua pinjaman dari ayahnya. Karena ketahuan oleh ayahnya,
maka kawanku itu dihukum membantu anak itu jualan Jalangkote’ selama tiga bulan
setiap seore sepulang sekolah. Tak tahunya, setelah tiga bulan berlalu, kawanku
itu menyukai aktivitas barunya, jadilah dia penjual Jalangkote’ keliling.
Tapi ah, buat apa juga saya
menceritakan kawanku yang namanya tidak mau dipublikasikan itu? Lebih baik saya
menyampaikan alasan kenapa saya merasa perlu memperkenalkan diri, meskipun
hanya sebatas nama panggilan, Singkeru’. Ini karena dorongan seorang kawan --ini bukan yang penjual Jalangkote’ keliling,
tapi seorang kutu buku, agar saya menulis cerita pendek.
“Weee... kalau namamu dibuat cerpen,
pasti lebih seru Singkeru’.” Demikian kata kawanku si kutu buku yang namanya
juga minta dirahasiakan. Macam-macam saja permintaannya, entah kenapa semua
kawan saya meminta namanya dirahasiakan. Tapi sudahlah, kembali kepada
komentarnya tentang sejarah namaku yang menurutnya layak dibuat cerpen.
“Seriusko?” Seruku agak ketus.
“Unik itu namamu, bikinko cepat cerpen
tentang itu.”
“Memangnya, biar nama juga bisa dibikin
cerpen kah?”
“Nassami bisa, apalagi namamu Singkeru’,
kayak tradisional sekali nah. Pasti tertarikki orang lain mau tahu.”
“Unik bagaimana?”
“Singkeru’, jarang itu orang namanya
begitu.”
“Awee.. makin tidak mengertika’
maksudmu.”
“Kau bisa ceritakan, apa artinya itu Singkeru’,
kenapa tettanu nakasi’ko nama itu, bisa juga kau tanya orang-orang tua tentang
makna Singkeru’...”
“Iyyo di’, tunggumi.” Ujarku sambil
berlalu.
Sejak pembicaraanku dengan kawan yang
mengusulkan agar saya membuat cerita tentang namaku yang menurutnya unik itu,
aku menghabiskan waktu di depan meja belajarku menghadapi selembar kertas dan
memegang pena. Sudah berhari-hari aku melakukan itu, tak juga berhasil aku
menuliskan kata pertama yang akan menjadi pembuka cerpen yang saya
cita-citakan. Sungguh, betapa sulitnya memulai sebuah tulisan, begitu tak
mudahnya memilih sebuah kata.
Apakah saya harus menulis namaku
terlebih dahulu, kemudian menguraikan maknanya dari berbagai perspektif?
Ataukah saya tulisankan saja semua maknanya baru saya simpulkan dan
memberitakukan ke pembaca bahwa semua itu bisa diwakili oleh sebuah kata,
Singkeru’, namaku yang menjadi ide utama cerpen ini. Lalu di mana menariknya
menceritakan nama sendiri, apakah itu akan merangsang rasa keingintahuan
pembaca untuk melanjutkan membaca cerpenku?
Hal lain yang membuatku berdiam diri
dan belum juga menggoreskan pena adalah, pilihan model tulisan yang akan saya
gunakan. Apakah saya akan menceritakan hikayat tentang namaku dengan model yang
lebih naratif, atau saya harus menciptakan beragam tokoh dan karakter, sehingga
makna dari Singkeru’ mencuat dari berbagai dialog yang terjadi antar tokoh
dalam cerpenku, nantinya? Arghhh....
“Kenapako cika, lesu sekali saya lihat?
Ada masalahmu?”
“Tidakji, bukanji masalah serius, ini
cuma persoalan tulisan.”
“Tulisan apa sede’?”
“Itue, mauka’ menulis cerpen yang
menceritakan tentang namaku’, Singkeru’.”
“Ow, tapi dari manako lagi dapat
inspirasi untuk membuat cerpen?”
“Ada tong, hehehehe....”
“Apamie, main rahasia-rahasiaan lagi,
kayak tong orang lainki’ bela.”
“Hehehe, tidak begitu cika, itu temanku
tidak mau namanya disebut. Kau juga tidak mauko namamu disebut toh?”
Karena hasrat untuk menulis cerpen
tentang namaku, saya memaksa diri membaca buku-buku tentang menulis, terutama
tentang membuat karya fiksi. Dari berbagai buku, saya menyimpulkan bahwa
ternyata tulisan juga berjenis kelamin.
Ketika hal tersebut kuceritakan pada
seorang seniorku yang jago menulis dan lagi-lagi menolak disebut namanya dalam
cerita ini, dia mempertanyakan kesimpulanku.
“Kenapa seng na bisa begitu?”
“Bisa apa?”
“Mana ada tulisan berjenis kelamin?”
“Oooo, itu cuma perumpamaan, Daeng.”
“Massu’nu, Singkeru’?”
“Begini Daeng, ada tulisan berjenis
kelamin fiksi, ada yang berjenis kelamin non fiksi.”
“Saya kira jenis kelamin laki-laki atau
perempuan, hehehehe...”
“Tapi Daeng, tidak bisa betulankah saya
tulis namata’?”
“Sebaiknya jangan.”
“Tidak enak tong itu Daeng kalau Cuma namaku
yang saya tulis.”
“Kenapa tidak ko tulis namanya temanmu
yang lain?”
“Menolak semua, Daeng, takutki bede’
jadi terkenal.”
“Kalau begitu tulismi pale’ namaku.”
“Tapi nama yang mana, Daeng.”
“Maksudmu nama yang mana?”
“Kan, banyak nama selalu kita’ pakai
kalau menuliski’.”
“Itu yang disebut nama samaran.”
“Jadi nama samaran yang mana pale’ saya
gunakan nanti, Daeng.”
“Sebutma’ saja, anonim. Hehehehe...”
“Deh, samaji itu tidak disebut namata’.”
“Maumi diapa, hahahaha....”
Waktu terus berlalu, saya terus membaca,
diskusi dan belajar menulis tentang berbagai hal seputar kepenulisan, tapi saya
belum juga berhasil menulis cerpen tentang namaku, alasan yang membuatku
belajar menulis. Namaku tetap Singkeru’ dan disapa Singkeru’, tanpa penjelasan.
Bahkan tanpa cerpen yang mengulas tentang namaku, yang rencananya akan kutulis
sendiri.
Pernah satu ketika aku mencoba
mengumpulkan informasi seputar namaku, Singkeru’, sebagai bahan cerpenku nanti.
Saya bertanya ke orang tuaku, pihak yang membuatku menyandang nama itu, mungkin
seumur hidupku nanti. Namun yang kujawab bukanlah penjelasan tuntas dan
memuaskan, malah setumpuk pertanyaan yang memicu rasa penasaran.
“Etta, sitongeng-tongenna, agaro
riaseng Singkeru’?”
“Anak, aja’ muakkutanangngi aga riaseng
Singkeru’ ri tau laingngE.”
“Masaro raja akkattaku maElo’
missengngi magai tawErEkka’ aseng, Singkeru’, Etta.”
“Aja’na muakkutana, Anak. NarEkko maElo’ko
missEngngi hakEka’na riasengngE Singkeru’, sappai ri alEmu, Anak.”
Tags:
Cerita Pendek