29.9.20

Nora, Selamat Jalan

Standard

[29.09.2020] Nora menjadi anggota keluarga itu sejak dua tahun lalu, dia tiba ketika hujan turun mengguyur kompleks perumahan yang terletak di pingir kota tersebut. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan tepatnya dia tiba. Dari lelaki yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota keluarga di rumah tersebut hanya mengatakan bahwa dia tiba-tiba didapat di teras rumah tersebut dengan badan yang basah kuyup dan menggigil kedinginan tanpa pakaian selembarpun.

Seluruh anggota keluarga di rumah tersebut sangat gembira dengan kedatangannya, tubuhnya yang ringkih digilir dalam gendongan semua anggota keluarga tersebut. Tubuhnya dikeringkan dengan handuk, disodori makanan dan diberinya dia selimut, setelah itu dia ditidurkan di atas sebuah tempat tidur yang berkasur empuk dalam sebuah kamar.

Sejak malam itu, dia resmi menjadi anggota keluarga tersebut. Dia ditempatkan sekamar dengan anak perempuan satu-satunya keluarga itu, dan dia merasa agak risih karenanya. Anak perempuan itu memperlakukannya seperti adik, darinyalah dia mendapatkan nama Nora, meskipun menurutnya nama itu mirip dengan nama perempuan, namun diterimanya juga nama itu tanpa protes meskipun dia merasa pasti bahwa dirinya seorang lelaki. 

Waktu terus berlalu, Norapun bertambah besar dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan keluarga sederhana tersebut. Keluarga tersebut memperlakukannya dengan baik dan dia tetap diberi hak sama dengan siapapun yang ada di keluarga tersebut, walaupun dia tetap merasa dirinya berbeda, namun keluarga tersebut tidak terlalu peduli dengan keadaan itu.

Keluarga itu hanya terdiri dari empat orang, seorang ayah, seorang ibu dan dua orang anak, seorang lelaki dan seorang perempuan. Namun rumah tersebut sering kosong bila siang hari, hanya anak perempuan itulah yang paling banyak berada dirumah. Anak perempuan itu didengarnya dipanggil Netty dan yang lelaki bernama Randy sedang sang ayah dikenal sebagai Pak Roger dan istrinya disapa Bu Roger, entahlah siapa nama sebenarnya Nora juga tidak tahu.

Setiap pagi, Pak Roger dan isrinya keluar bersama dengan menggunakan mobil Honda Civic yang mereka miliki. Dandanan rapi yang mereka gunakan menunjukkan mereka orang yang punya posisi terpandang di tempat kerja, tapi entahlah apa dan dimana pekerjaan mereka Nora juga tidak pernah menanyakannya, dia juga tidak tahu kenapa dia tidak menanyakannya. Baginya, diterima dengan baik di keluarga ini saja sudah cukup.

Sejak dia berada di rumah tersebut, Nora sudah merasa ada yang berbeda antara dia dengan semua anggota keluarga yang lain, meskipun keluarga Pak Roger tidak memperlakukannya dengan diskriminatif, bahkan cendrung berlebihan dalam memperlakukannya, dia merasa tetap ada jarak yang tidak bisa ditembus di antara mereka.

Ketika bercengkrama dengan si Netty, sering muncul keinginannya untuk mencoba membicarakan hal tersebut dari hati ke hati, namun dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.

Dia hanya mampu menyampaikan hal yang dirasakannya tersebut lewat sorot mata yang penuh tanda tanya. Namun apa yang dilakukannya itu tidak membuat Netty mengerti dan kemudian menjelaskannya, malah Netty balik memandanginya dengan muka yang berhias senyum kasih sayang dan mengelus rambutnya berkali-kali. Bila sudah seperti itu dia akan tertunduk dan bahkan sering sampai berbaring di pangkuan Netty.

Kian hari dia makin merasakan perbedaan itu, ketika mereka duduk bersama di meja makan dan menikmati santap malam. Dari sekian banyak jenis makanan yang disajikan, hanya satu yang disentuhnya, ikan. Baginya itu hal yang aneh bila dibandingkan dengan Netty atau Randy misalnya, yang dengan lahapnya bisa menikmati sayur dan nasi.

Tapi lagi-lagi bagi keluarga itu, hal tersebut bukan hal yang istimewa. Menurut Bu Roger, malah orang lain lebih aneh lagi, dia punya teman yang hanya suka makan sayuran, kalau tidak salah menurut Bu Roger itu disebut vegetarian. Belum lagi orang-orang yang hanya makan steak atau roti tawar, timpal Pak Roger. Justru mereka bangga punya anggota keluarga yang punya kebiasaan lain, hanya makan ikan dan enggan makan nasi atau sayur, seperti Nora.

Permakluman yang diberikan oleh keluarga tersebut kepadanya membuat Nora merasa enjoy menjalani kelainannya tersebut, yang bagi keluarga tersebut sebagai hal yang lumrah. Bahkan seringkali, bila dia lagi lapar dan belum waktunya makan, dia akan mengambil sendiri ikan yang berada di meja makan, bila melihat hal tersebut, anggota keluarga sederhana itu akan tersenyum kegirangan, malah membantunya memindahkan ikan ke dalam piringnya.

Bila pagi hari dia ditinggal sendiri, sering juga Nora bertanya dalam hati, kenapa dia belum di sekolahkan juga seperti Netty supaya nanti dia bisa kuliah seperti Randy. Namun keluarga Pak Roger tidak megizinkannya keluar rumah. Nora sering merasa kesepian bila ditinggal sendiri, dia tidak punya teman bermain. Untunglah akhir-akhir ini ada seekor kucing tetangga yang sering datang ke rumahnya dengan diam-diam.

Hanya ini yang bisa sedikit mengobati kesepiannya, dia suka sekali dengan kucing betina itu, warnanya putih dengan sedikit bauran hitam di wilayah leher. Kucing tetangga tersebut memiliki bulu yang lebat dan sangat bersih, seekor kucing yang sangat menarik hati. Tapi dia biasanya main dengan kucing tetangga itu bila pagi hari, sebab Netty tidak terlalu suka dengan kehadirannya, mungkin dia cemburu.

Bukan cuma Netty, Bu Rogerpun pernah memperingatinya untuk tidak terlalu dekat dengan kucing betina milik tetangga tersebut, jorok katanya, padahal Nora suka sekali dengan kucing itu. Sering dia mengajak kucing tersebut main kejar-kejaran dari kamar kekamar sampai mereka kelelahan setelah itu mereka akan terkapar terengah di atas sofa di ruang tamu dan kucing itu akan terbaring di pangkuannya dan mengelus-eluskan kepalanya di lengannya, dia begitu bahagia, maklum tidak ada teman lain kecuali kucing tersebut.

Sebenarnya, ingin sekali dia memperlihatkan keanehannya kepada kucing betina tetangga tersebut, bahwa dia cuma suka makan ikan dan tidak nasi atau sayur, namun niat itu diurungkannya. Bahkan dialah yang jadi penonton ketika kucing betina tetangga tersebut memperlihatkan keanehannya padanya dan dia mengaggap bahwa hal itu sesuatu yang begitu spektakuler.

Ternyata kucing tetangga itu mempunyai hobby berburu tikus dan setelah itu dijadikannya santapan yang begitu lezat. Pada awal melihat hal itu, dia merasa begitu jijik sehingga perutnya mual dan hampir muntah, namun lama-kelamaan, dia memaklumi hal tersebut dan menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang sangat hebat, dia belum pernah mendengar hal serupa. Maklum dia tidak pernah berhubungan dengan orang lain diluar keluarga Roger kecuali dengan kucing betina milik tetangga tersebut.

Bahkan kebiasaan kucing betina tetangga tersebut sampai menular kepadanya, tapi tidak sampai memakannya, hanya sampai pada anggapan bahwa bermain dengan tikus sebagai permainan yang begitu mengasyikkan. Mengetahui bahwa Nora suka bermain tikus, Netty pernah menawarkan untuk membelikan boneka sebagai gantinya, asal jangan tikus, tapi tawaran itu tak dihiraukannya.

Sebenarnya dia mau minta kepada Netty agar dibelikan seekor tikus putih, menurutnya, makhluk yang satu itu begitu manis dan imut-imut, dia pernah melihatnya sekali di televisi dan sejak itu dia punya obsesi untuk memelihara tikus putih, tapi dia malu menyampaikannya. Keinginan tersebut hanya disimpannya di dalam hati karena dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.

Suatu hari, seperti hari-hari sebelumnya, ketika semua orang di rumah sudah pada berangkat, kucing betina tetanggapun sudah datang mengendap-endap dan masuk lewat jendela dapur. Hari itu ada sesuatu yang lain dengan kucing itu. Sejak datang dia lebih banyak diam, ketika Nora mengajaknya main kejar-kejaran atau berburu tikus, dia tidak beranjak sedikitpun, dia hanya menatap Nora lekat-lekat.

Tiba-tiba dia mendekati Nora lalu mengelus-eluskan kepalanya di lengan Nora. Ada apa? Nora bertanya padanya. Apa aku punya salah padamu? Kucing tetangga itu hanya diam dan mengalihkan pandangannya kearah jendela yang mengarah kehalaman. Apa? kau mengajakku main diluar? Mendengar pertanyaan Nora, mata kucing betina tetangga tersebut berbinar cerah lalu dia berlari dan dengan sebuah isyarat, mengajak Nora mengikutinya.

Ternyata, ketika tiba di halaman, kucing betina tetangga tersebut terus berlari menyeberang jalan raya dan berhenti menunggu Nora di seberang. Ketika Nora mengikutinya menyeberang, tiba-tiba dari arah samping meluncur sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Nora yang sudah berjalan berusaha menarik langkahnya untuk menyelamatkan diri, namun naas baginya, pinggulnya sempat keserempet.

Tubuh Nora terhempas kembali masuk ke dalam halaman keluarga Roger. Dia tak sadarkan diri, entah berapa lama dia pingsan. Ketika tersadar, dia mendapati dirinya sudah berada di kamar Netty di atas tempat tidur yang selama ini mereka gunakan bersama. Samar-samar dia melihat semua anggota keluarga Roger mengelilinya dengan wajah harap-harap cemas.

Dengan mata yang bercucuran air mata Netty berguman lirih, jangan meninggalkan kami Nora, kami semua menyayangimu. Dia begitu terharu mendengar kata-kata Netty, tapi tenaganya sudah semakin payah, dia tidak mampu mengatakan apa-apa, dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.

Ketika nafasnya mulai tersengal dan dirasanya bahwa maut sudah tidak mungkin terelakkan, dengan pandangan sayu, ditatapnya kembali lekat-lekat semua anggota keluarga Roger yang dicintainya, dia ingin menyampaikan ucapan terima kasihnya yang terakhir. Saat rohnya serasa sudah di tenggorokan, dia merasa butuh untuk mengucapkan salam perpisahan, terucaplah kata meong dengan suara bergetar.

Matilah Nora si kucing siam yang manis.

Cerpen ini terbit bersama beberapa cerpen lain dalam kumpulan Mata Itu Aku Kenal, LeutikaPrio, Yogyakarta, Januari 2012.

12.11.19

La Capila: Ujung Pengharapan

Standard
[12.11.2019] Galigo ini, mengikuti pola umum galigo Bugis, baris pertama menggunakan 8 suku kata, baria kedua 7 suku kata, dan baris ketiga terdiri dari 6 suku kata.
.
Paria lorong no mai (8)
Ri tuju tellongeng ku (7)
Tapada mapai (6)
.
Arti per kata: Paria: Peria / lorong no: ayo menjalarlah / mai: ke mari / Ri tuju: pada arah / tellongeng ku: jendelaku / tapada: kita bersama / mapai: pahit.
.
Tak sulit untuk memahami maksud dari galigo ini. Kata-kata yang digunakannya bukanlah kata arkaik yang punya makna berlapis. Morfemnya pun masih karib di telinga para penutur bahasa Bugis, karena masih digunakan dalam percakapan sehari-hari.
.
Pada baris pertama, galigo ini berisi seruan pada tanaman Peria untuk menjulur ke arah si penyeru, tepat di bawah ambang jendelanya, seperti disebut dalam baris kedua. Seakan, si penyeru mengajak si Peria untuk bersua dan bertemu muka.
.
Untuk apa perjumpaan itu? Tanya ini terjawab pada baris ketiga: tapada mapai. Si penyeru mengajak si Peria untuk bersitatap lewat jendela, agar mereka bisa mengadu kepahitan. Bukankah Peria memanglah sejenis sayur yang pahit?
.
Galigo ini merupakan ungkapan orang yang berada di ujung pengharapan oleh sakitnya dikecewakan. Lihatlah, si pembuat sakit disimbolkan dengan Peria, sebagai pemberi kepahitan. Si korban lalu menyeru lewat galigo ini biar sekalian saja saling menyakiti.
.
Mereka yang begitu kecewa, dan tak lagi melihat cahaya, akan memilih untuk hancur bersama daripada membiarkan dirinya dibelasah derita dan pelakunya tetap bisa tertawa.
.
#galigo #lacapila #bugis #sastrabugis #sastra  #bugismilenial

12.8.19

Area Bebas Kerja, Adakah?

Standard
[12.08.2019] Beberapa waktu lalu, aku memamah tulisan lawas dari Bob Black yang berjudul Penghapusan Dunia Kerja pada sebuah postingan di webblog. Tulisannya lumayan panjang, mungkin karena itu pula tulisan tersebut mampu menyajikan ulasan perihal hidup dan kerja sebagai sebuah kelindan tak berujung, secara jernih.

Salah satu kupasan yang lekat dengan cukup kuat dalam ingatanku adalah perihal waktu luang. Bob membongkar dengan kejam pemahaman kolektif publik selama ini akan makna waktu luang. Bagi Bob, waktu luang bukanlah waktu bebas kerja, malah, di sanalah belenggu kerja terlihat dengan nyata dan terang.

Waktu luang, yang kita persepsi sebagai area tanpa kerja, hanyalah sebentuk ilusi, sebab sejatinya, di wilayah itulah kita merancang rencana, mengumpul tenaga, dan menyiapkan emosi agar aktivitas kerja setelah waktu luang berakhir, menjadi lebih berkualitas. Lalu pantaskan waktu luang itu disebut bebas dari kerja? Nyatanya tidak.

Seorang pekerja kantoran misalnya, yang punya jadwal kerja tetap selama enam koma lima jam perhari sepanjang hari senin hingga jumat, mungkin terlihat bisa membebaskan diri dari kerangkeng kerja di luar jam itu. Tapi dalam analisa Bob, ternyata tak seindah itu.

Malam hari, sepulang dari kantor, pekerja kantoran istirahat dan tidur cepat agar bisa bangun pagi dengan segar supaya bisa ke tempat kerja dengan ceria. Pagi - pagi mereka berpacu dengan waktu untuk mandi dan sarapan, menyeterika pakaian, memandikan anak dengan tergesa, agar tak telat sampai di tempat kerja. Lihatlah, semua demi kerja.

Bahkan di akhir pekan, saat mereka memilih berwisata dengan keluarga, tetangga atau rekan kerja, tentu dengan alasan untuk melepas penat setelah lima hari berjibaku di dunia kerja. Tapi apakah sebatas itu? Tentu tidak, mereka berwisata untuk menyiapkan diri agar bisa bekerja dengan baik di pekan depan.

Belum lagi bila ada pekerjaan tambahan, atau ada perintah atasan, maka dalam sehari bisa saja mereka bekerja lebih dari enam koma lima jam, bisa saja sabtu dan ahad yang sebelumnya dikenal sebagai waktu luang --meski sejatinya sebagai hari kerja terselubung, menjadi terampas dan menjelma menjadi hari kerja nyata.

Terkadang, sudah terlambat pulang, sabtu dan ahad terampas menjadi hari kerja, ditambah pula dengan melanjutkan pekerjaan di rumah, saat seharusnya mereka bercengkrama dengan keluarga atau tidur malam. Di situasi sedemikian, hati kecilku bertanya, apa makna hidup sesungguhnya, apakah sebatas kerja, kerja, dan kerja? 

Lalu apa kerja itu? Supaya kita menjadi lebih manusiawi seperti daku perspektif Marxian? Tapi bukankah faktanya tak demikian? Kerja malah membuat kita kehilangan hidup, kita menjadi tak lebih dari sekadar sekrup dalam sebuah mesin besar, seperti ilustrasi Syariati. Kita tak lagi punya hidup, momen waktu yang dilewati dengan kesenangan manusiawi dan tanpa bayang - bayang kerja.

Seorang ahli, Stephen R. Covey bahkan mengeluarkan resep agar kita bisa menjadi sekrup yang awet dan tidak cepat aus di dunia kerja: Asahlah Gergaji. Demikian sarannya dalam The 7 habits for Highly Effective People. Menurutnya, sebuah gergaji tidak akan efektif bila dipakai selama berjam-jam tanpa henti. Efektivitas penggunaan gergaji bisa dijaga bila diistirahatkan dan diasah secara rutin dalam jadwal reguler.

Lihatlah, dengan analogi gergaji yang diasah, Covey sesungguhnya sedang menegaskan bahwa waktu luang, akhir pekan, atau cuti bersama, tak lebih dari sebuah masa untuk mengasah gergaji, agar kembali menjadi tajam dan siap digunakan. Itu berarti, kita istirahat di malam hari, di akhir pekan, atau di saat cuti bersama, tak lebih agar kita bisa kembali bekerja dengan baik.

Bukankah ini sebuah ilustrasi terang betapa kerja telah menjadi sebuah lingkaran setan yang menakutkan dan penjara panoptik bagi kebebasan manusiawi kita? Mungkin itulah mengapa, Joko Pinurbo, menyindir kehidupan yang sedemikian dengan begitu sarkastik.
Tak ada lagi minggu dalam diriku,
seluruh tubuhku 
sudah jadi hari kerja
dan hari bicara

Tulisan ini pun sesungguhnya bekerja dalam logika waktu luang. Aku menulis sebagai sebentuk pengobatan, menyegarkan pikiran, menenangkan emosi, agar setelahnya, bisa kembali bekerja dengan baik, menjadi sekrup yang tak lekas aus. Mungkin begitupun dengan anda yang membacanya.

Namun setidaknya, selama dan setelah menulis serta membaca tulisan ini, kita bisa mengeluarkan sumpah serapah dan cacian terhadap belenggu dunia kerja. Walau setelahnya, kita lalu kembali menceburkan diri dalam belukar tak berujung itu, dan berpura - pura menikmatinya sebagai realitas hidup yang tak mungkin ditolak.

Hidup Kerja!

6.8.19

La Capila: Berkhidmat Pada Takdir

Standard
[06.08.2019] Berkhidmat Pada Takdir
.
Arti perkata: Ininnawa (hasrat hati) / mapato (tunduk dan patuhlah) / ko (kau) // alai (ambil ia) / pakkawaru (sebagai bentuk pengabdianmu) // toto (nasib) / teng (takkan) / lésang (bergeser/berubah) / mu (milikmu).
.
Galigo ini tak membutuhkan interpretasi konotatif. Setiap katanya mudah dimengerti. Meski beberapa kata sudah menjadi arkaik, seperti ininnawa, pakkkawaru, dan lésang.
.
Galigo ini bermakna anjuran untuk senantiasa mengendalikan  hasrat hati sebagai bentuk ketundukan pada takdir (toto) yang digariskan oleh Patotoé (Maha Penentu Takdir).
.
Berpasrah pada garis nasib adalah sebuah prinsip yang sama kuatnya dengan anjuran untuk berikhtiar tanpa kenal menyerah. Berpasrah bukan menyerah, melainkan kepatuhan yang patut untuk dipersembahkan kepada Tu(h)an.
.
Ketundukan per se ini menjadi kerangka dasar mengapa kesetiaan seorang Bugis tak pantas diragukan. Karena berkhidmat pada takdir adalah jalan hidup agar kita tidak terjerembab pada ceruk dalam takdir buruk (toto macilaka).
.
Seperti lagu berikut: Tunru'ko nalureng toto // Aja' muléga' - léga' // Mabuang ammengko. Dalam hidup, janganlah berkelok liku, jangan terlalu banyak kemauan. Jalani saja dengan pésona, ketundukan dan kepatuhan yang sublim.
.
Pahami pula bahwa ikhtiar bukan demi hasrat pribadi, melainkan upaya menjemput takdir. Maka bila manusia Bugis meyakini lintasan jalan takdirnya, jangan coba memasang aral, sebab mereka akan melindasnya, sesulit apapun itu.
.
Kepatuhan itu menjadi bukti bahwa manusia Bugis mengakui toto sebagai hak prerogatif Tuhan, manusia hanya menjalani. Seperti pesan leluhur: Résopa na teng mangingngi // Malomo nalétéi // Pammasé déwata. Lihatlah, tegasnya kelindan tak terurai antara kerja keras dan ikhtiar tak kenal menyerah dengan hadirnya keberkahan dari Tuhan.
.
Karena takdir bukanlah sesuatu yang terberi, manusia harus menyiapkan kondisi yang memungkinkan toto itu terpenuhi. Di sinilah posisi pesona dan pakkawaru itu bersemayam, berkhidmat untuk melapangkan jalan bagi termanifestasinya takdir Allah.
.
#galigo #galigobugis #bugis #bone #soppeng #wajo #barru #pinrang #luwu #sinjai #sajak #elong #sastra #sastradaerah #lagaligo #bugismilenial

14.6.19

La Capila: Berteguh Dalam Keyakinan

Standard
[14.06.2019] Berteguh Dalam Keyakinan
.
Arti perkata: Mau (walau) / telleng (tenggelam) / salompé'na (anjungannya) /
Na (apabila) iyyamo (ini dia) lopié (perahunya) / Tunru'ka' (aku patuh) / nalureng (jadi penumpang)
.
Galigo ini menggunakan kata yang tak membutuhkan interpretasi konotatif. Setidaknya, hanya kata salompé'/salompo/salampé' yang tidak lagi digunakan dalam keseharian seiring memudarnya kebiasaan melaut masyarakat Bugis.
.
Bila ditilik berdasar arti perkata, galigo ini berarti: Meski telah terendam anjungannya, aku akan tetap bersetia untuk berada di atas perahu ini. Walau demikian, sebagai sebuah stanza, galigo ini pun mengandung makna interpretatif.
.
Secara sederhana, galigo ini adalah ungkapan kesetiaan dan komitmen untuk berteguh pada warekkeng (pegangan), buhul yang kukuh. Bukankah ini serupa dengan perkataan Sang Nabi, "berpeganglah pada agama ini, meski kau harus memakan urat kayu."
.
Demikianlah kiranya, orang Bugis tak akan bergeser dari sesuatu yang telah ditetapinya sebagai kebenaran, atau dipilihnya menjadi keyakinan. Inilah yang disebut toddo' puli. Ibarat paku yang dipasang mati, kecil kemungkinan mencabutnya kembali.
.
Galigo semakna, dengan idiom serupa bisa dilihat pada stanza berikut:
Mauna ri cappa' sompe' (8)
Ri munri pallajareng (7)
Rékko tonang mua' (6)
.
Secara perkata: Mauna (Walaupun) / ri cappa' (di ujung) / sompe' (layar) / Ri munri (di belakang) / pallajareng (tiang layar) / Rékko (apabila) tonang mua' (aku naik).
.
Saking pentingnya bergabung dalam kafilah kebenaran yang diibaratkan sebagai perahu layar, maka walau sekadar di ujung kain layar sekalipun, atau di balik tiang layar, tiadalah mengapa.
.
Demikianlah orang Bugis menegaskan komitmennya.
.
#galigo #galigobugis #bugis #bone #soppeng #wajo #barru #pinrang #luwu #sinjai #sajak #elong #sastra #sastradaerah #lagaligo #bugismilenial

1.6.19

Masjid Daeng Matteru

Standard

[07.04.2019] Namanya Daeng Matteru. Warga kampung yang belum pernah menginjakkan kaki di masjid walau sekali, semenjak aku menjadi imam di sini, di kampung ini.

Penasaranku padanya bermula saat Puang Cambang --donatur tunggal yang telah menyulap masjid di kampung tersebut menjadi begitu megah dan menunjukku menjadi imam, mendekatiku seusai tarawih.
     “Sudah lima belas ramadan, Ustaz.” Serunya saat masjid sudah sepi.
     “Iya Puang. Alhamdulillah, jamaah masih bertahan.”
     “Iya, menggembirakan. Cuma…” Puang Cambang menghela nafas panjang.
     “Ada hal yang masih mengganjal di hati, Ustaz.” Lanjutnya.
     “Apa gerangan, Puang?”
     “Soal anak – anak yang sering gaduh, dan soal Daeng Matteru.”

Mendengar soal anak – anak, itu sudah biasa, tapi Daeng Matteru? Ada apa dengan lelaki paruh baya itu?
     “Daeng Matteru belum pernah datang salat, Ustaz.” Puang Cambang menerka keherananku.
     “Begini saja. Kalau Ustaz berhasil membujuknya untuk salat di masjid ini, saya akan bersedekah padanya di tiap bulan. Bagaimana?”
     “Puang Cambang, serius?”
     “Insya Allah, Ustaz siap membujuknya?”
     “Akan saya coba, Puang. Insya Allah.”
     “Tolong, soal sedekah itu jangan disampaikan dulu ya, saya takut niatnya nanti tidak tulus.” Puang Cambang pun berlalu.
*     *     *

Sore, aku menyambangi kediaman Daeng Matteru di ujung kampung. Kulihat Daeng Matteru bercengkerama dengan belasan bocah di sela bedeng yang ditanaminya bermacam sayur. Ia tinggal sendiri, istrinya telah meninggal berbilang tahun, mereka tak punya anak.

Aku kian mendekat. Rupanya, anak – anak yang dia temani adalah mereka yang suka bergurau di masjid. Kebetulan yang menguntungkan. Setelah menjawab salamku, Daeng Matteru menjabat tanganku.
     “Wah, ada Ustaz. Ayo anak – anak, salim ke Ustaz.”
     “Kalian pulang dulu ya, saya ada urusan dengan Ustaz, nanti besok kita main lagi.” Lanjutnya. Dia menyilakan masuk, aku memilih berbincang di teras.

Kami duduk bersisian di bangku. Daeng Matteru lebih dahulu memulai percakapan.
     “Terima kasih Ustaz telah berkunjung. Sungguh bahagia mukim saya didatangi seorang ustaz, di bulan ramadan pula, rasanya seperti mendapatkan lailatul qadr.” Daeng Matteru mendahuluiku.
     “Ah, Daeng bisa saja. Maaf, kedatanganku telah mengganggu.”
     “Mana berani saya merasa terganggu, Ustaz.”
     “Jadi begini, aku melihat hubungan Daeng dengan anak – anak tadi lumayan dekat…”
     “Benar Ustaz, kami memang dekat. Ada masalah, Ustaz?” Mata Daeng Matteru agak mendelik.
     “Bukan begitu, Daeng. Anak – anak itu, saban malam mereka ribut di masjid.”
     Hehehe… Bukankah anak – anak memang masanya bermain, Ustaz? Bukankah bermain di masjid juga bukan perbuatan terlarang dalam agama?”
     “Betul. Tapi menjadi masalah ketika mereka bermain di saat kami sedang salat isya dan tarawih, mereka berlarian di sela saf, terutama di barisan belakang.” Terangku, Daeng Matteru manggut – manggut.
     “Jadi apa yang bisa saya bantu, Ustaz?”
     “Bisalah sesekali Daeng hadir di masjid dan menjaga agar mereka tidak ribut di saat salat.”
     Kalau itu, mudah saja Ustaz. Insyaallah saya akan datang.” Daeng Matteru meyakinkanku.
*     *     *

Malam hening, bacaan tahiyatku merambat memanjat lengang. Salat kupungkas dengan salam yang kuimbuhi zikir dan doa bersama jamaah. Begitu kata amin menggega di ujung al Fatihah, seseorang menepuk bahuku dari belakang, Puang Cambang.
     “Sepertinya kamu berhasil, Ustaz. tidak ada lagi anak – anak yang gaduh.”
     “Iya, Puang….” Ujarku sambil melirik ke seluruh jamaah yang mulai membubarkan diri, termasuk Puang Cambang. Tak ada Daeng Matteru di sana.

Saat kaki kananku menjangkau teras masjid, seseorang tiba – tiba berdiri takzim di hadapanku.
     “Saya sudah laksanakan tugasku, Ustaz.” Muka Daeng Matteru semringah.
     “Alhamdulillah, anak – anak memang sudah tidak ribut, Daeng. Tapi, tadi di bagian mana?” Tanyaku sambil mengajaknya duduk di teras masjid, di atas sajadah yang kuhamparkan.
     “Maksudnya, Ustaz?”
     “Maksudku, waktu salat tadi, Daeng Matteru berdiri di saf sebelah mana?”
     “Oh, saya cuma berdiri di dekat pintu, Ustaz. Tugas saya cuma mengawasi anak – anak agar tak gaduh, kan? Hehehehe….” Jawabnya cengengesan.
      “Tidak ikut salat?”
     “Tidak, Ustaz. Insyaallah nanti saya salat di rumah saja.”
     “Kenapa?” Tanyaku sambil menepuk pundaknya.
     “Salat di rumah tidak apa – apa kan, Ustaz.”
     “Tidak apa – apa, tapi salat di masjid juga tidak apa – apa.”
     “Saya yang apa – apa, Ustaz. Saya merasa belum pantas menginjakkan kaki di masjid.”
     “Maksud Daeng?”
     “Saya belum suci, Ustaz.”
     “Daeng tidak tahu berwudu?
     “Tahu”
     “Lalu?”
     “Saya teringat kata Allah, wa tsiyaabaka fathahhir, wa al-rujzah fahjur.” Cara Daeng Matteru melantunkan ayat ketiga dan keempat surah al Muddatsir dengan sangat indah, membuatku seperti tersengat kalajengking.
     “Bukankah tubuh ini adalah pakaian bagi jiwa? Jangankan jiwaku, tubuh inipun rasanya masih penuh dosa dan kemusyrikan.” Daeng Matteru melanjutkan, sekilas kulihat tubuhnya bergetar. Aku pikir, dia memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam.
     “Kemusyrikan itu di pikiran dan keyakinan, Daeng. Bukan di tubuh.” Aku mencoba meyakinkannya.
     “Saya kadang masih berlebihan menyantap makanan di saat berbuka, itu sebentuk kemusyrikan bagi tubuh, kan Ustaz?”
     “Maka masuklah ke masjid, Daeng. Allah akan memberikan petunjuk-Nya.”
     “Sungguh takut saya kepada Allah yang telah menyebut kemusyrikan sebagai najis, dan Dia pun melarang si najis untuk mendekati masjid. Tentu Ustaz lebih paham maksud kalimat Allah dalam at Taubah ayat 29 itu. Apalagi masjid ini begitu bersih, mana pantas bangsat seperti saya ini memasukinya?” Mendengar jawabnya, aku makin tertantang untuk mengajaknya salat di masjid.
      “Lalu apakah dengan salat di rumah, Daeng merasa itu bukan di masjid?”
     “Tentu demikian, Ustaz. Bukankah jelas beda rumah dengan masjid?” Mendengar jawabnya, aku melihat peluang.
     “Apakah Daeng tahu bila masjid itu bermakna tempat sujud? Berarti saat Daeng Matteru bersujud di rumah, maka rumah itu telah menjadi masjid.”
     “Wah, tidak bisa begitu, Ustaz.”
     “Mengapa tidak bisa?” Daeng Matteru terdiam, mungkin mencoba mencerna tanyaku.
     “Dalam Alquran, masjid juga tidaklah bermakna bangunan. Tentu Daeng Matteru pernah mendengar ayat Alquran tentang Masjid Alharam dan Masjid Alaqsa. Saat ayat itu turun, Masjid Alharam mengacu ke pelataran Kabah dan Masjid Alaqsa hanyalah sebongkah batu besar di Palestina.” Kulihat Daeng Matteru tercenung.
     “Bahkan para alim meyakini bahwa badan kita ini, yang Daeng Matteru sebut bergelimang dosa dan kemusyrikan, sesungguhnya adalah bait Allah, tempat ruh Allah bersemayam. Maka untuk membersihkan dosa dan kesyirikan yang melekat, masukkan masjid ke dalam diri kita, jadikan tubuh ini layak disebut bait Allah.” Kembali aku menohoknya.
     “Tapi tak mungkin masjid itu masuk ke dalam diri kita, bila kita tak pernah memasukinya.” Suasana lalu hening, dari kejauhan kudengar anjing melolong panjang.
*     *     *

Malam ke dua puluh tujuh ramadan, usai mengimami jamaah, ekor mataku menangkap bayangan Daeng Matteru bersujud di pojok masjid, panjang dan dalam.


25.5.19

La Capila: Integritas dan Kebahagiaan

Standard
[25.05.2019] Galigo kali ini, masih mengikuti pola umum galigo Bugis, baris pertama menggunakan 8 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ketiga terdiri dari 6 suku kata.
.
tinulu kuala lonré (8)
pata kuala guling (7)
pésona sompe'ku' (6)
.
Arti per kata: tinulu: rajin / kuala: kuambil (kujadikan) / lonré: biduk (kendaraan) // pata: tekun / kuala: kuambil (kujadikan) / guling: kemudi // pésona (berserah diri) / sompe'ku' (layarku)
.
Galigo ini tidak terlalu rumit untuk diartikan dan dimengerti. Idiom - idiom yang digunakan juga tidak membutuhkan penafsiran konotatif, sebab makna denotatifnya terang benderang.
.
Kelebihan galigo ini, bak umumnya galigo Bugis, mengandung kata - kata arkais, yakni kata lonré yang berarti biduk, sesuatu yang dikendarai, pata atau pato yang bermakna tekun, serta pésona yang berarti berserah diri.
.
Secara utuh, galigo ini dapat dipahami sebagai ujaran perihal hakikat kebahagiaan. Kebahagiaan dalam perspektif galigo ini, bukanlah hal yang terberi, ia sesuatu yang diraih melalui perjuangan dan kerja keras sepanjang hayat.
.
Untuk menggapai bahagia, maka rajin (tinulu) menjadi karakter utama dalam mengarungi samudera hidup. Namun rajin saja tak cukup, nafas panjang perjuangan, perlu dibina dan dijaga melalui ketekunan (pata/pato).
.
Agar rajin dan ketekunan itu bisa berbuah keberkahan hidup, berserah diri menjadi nilai pamungkas yang patut dijunjung tinggi. Ini menunjukkan bagaimana manusia Bugis senantiasa melibatkan kuasa Tuhan yang Esa (Déwata Séuwwaé) dalam segala hal.
.
#galigo #lacapila #bugis #sastrabugis #sastra  #bugismilenial #bugispedia