12.11.19

La Capila: Ujung Pengharapan

Standard
[12.11.2019] Galigo ini, mengikuti pola umum galigo Bugis, baris pertama menggunakan 8 suku kata, baria kedua 7 suku kata, dan baris ketiga terdiri dari 6 suku kata.
.
Paria lorong no mai (8)
Ri tuju tellongeng ku (7)
Tapada mapai (6)
.
Arti per kata: Paria: Peria / lorong no: ayo menjalarlah / mai: ke mari / Ri tuju: pada arah / tellongeng ku: jendelaku / tapada: kita bersama / mapai: pahit.
.
Tak sulit untuk memahami maksud dari galigo ini. Kata-kata yang digunakannya bukanlah kata arkaik yang punya makna berlapis. Morfemnya pun masih karib di telinga para penutur bahasa Bugis, karena masih digunakan dalam percakapan sehari-hari.
.
Pada baris pertama, galigo ini berisi seruan pada tanaman Peria untuk menjulur ke arah si penyeru, tepat di bawah ambang jendelanya, seperti disebut dalam baris kedua. Seakan, si penyeru mengajak si Peria untuk bersua dan bertemu muka.
.
Untuk apa perjumpaan itu? Tanya ini terjawab pada baris ketiga: tapada mapai. Si penyeru mengajak si Peria untuk bersitatap lewat jendela, agar mereka bisa mengadu kepahitan. Bukankah Peria memanglah sejenis sayur yang pahit?
.
Galigo ini merupakan ungkapan orang yang berada di ujung pengharapan oleh sakitnya dikecewakan. Lihatlah, si pembuat sakit disimbolkan dengan Peria, sebagai pemberi kepahitan. Si korban lalu menyeru lewat galigo ini biar sekalian saja saling menyakiti.
.
Mereka yang begitu kecewa, dan tak lagi melihat cahaya, akan memilih untuk hancur bersama daripada membiarkan dirinya dibelasah derita dan pelakunya tetap bisa tertawa.
.
#galigo #lacapila #bugis #sastrabugis #sastra  #bugismilenial

12.8.19

Area Bebas Kerja, Adakah?

Standard
[12.08.2019] Beberapa waktu lalu, aku memamah tulisan lawas dari Bob Black yang berjudul Penghapusan Dunia Kerja pada sebuah postingan di webblog. Tulisannya lumayan panjang, mungkin karena itu pula tulisan tersebut mampu menyajikan ulasan perihal hidup dan kerja sebagai sebuah kelindan tak berujung, secara jernih.

Salah satu kupasan yang lekat dengan cukup kuat dalam ingatanku adalah perihal waktu luang. Bob membongkar dengan kejam pemahaman kolektif publik selama ini akan makna waktu luang. Bagi Bob, waktu luang bukanlah waktu bebas kerja, malah, di sanalah belenggu kerja terlihat dengan nyata dan terang.

Waktu luang, yang kita persepsi sebagai area tanpa kerja, hanyalah sebentuk ilusi, sebab sejatinya, di wilayah itulah kita merancang rencana, mengumpul tenaga, dan menyiapkan emosi agar aktivitas kerja setelah waktu luang berakhir, menjadi lebih berkualitas. Lalu pantaskan waktu luang itu disebut bebas dari kerja? Nyatanya tidak.

Seorang pekerja kantoran misalnya, yang punya jadwal kerja tetap selama enam koma lima jam perhari sepanjang hari senin hingga jumat, mungkin terlihat bisa membebaskan diri dari kerangkeng kerja di luar jam itu. Tapi dalam analisa Bob, ternyata tak seindah itu.

Malam hari, sepulang dari kantor, pekerja kantoran istirahat dan tidur cepat agar bisa bangun pagi dengan segar supaya bisa ke tempat kerja dengan ceria. Pagi - pagi mereka berpacu dengan waktu untuk mandi dan sarapan, menyeterika pakaian, memandikan anak dengan tergesa, agar tak telat sampai di tempat kerja. Lihatlah, semua demi kerja.

Bahkan di akhir pekan, saat mereka memilih berwisata dengan keluarga, tetangga atau rekan kerja, tentu dengan alasan untuk melepas penat setelah lima hari berjibaku di dunia kerja. Tapi apakah sebatas itu? Tentu tidak, mereka berwisata untuk menyiapkan diri agar bisa bekerja dengan baik di pekan depan.

Belum lagi bila ada pekerjaan tambahan, atau ada perintah atasan, maka dalam sehari bisa saja mereka bekerja lebih dari enam koma lima jam, bisa saja sabtu dan ahad yang sebelumnya dikenal sebagai waktu luang --meski sejatinya sebagai hari kerja terselubung, menjadi terampas dan menjelma menjadi hari kerja nyata.

Terkadang, sudah terlambat pulang, sabtu dan ahad terampas menjadi hari kerja, ditambah pula dengan melanjutkan pekerjaan di rumah, saat seharusnya mereka bercengkrama dengan keluarga atau tidur malam. Di situasi sedemikian, hati kecilku bertanya, apa makna hidup sesungguhnya, apakah sebatas kerja, kerja, dan kerja? 

Lalu apa kerja itu? Supaya kita menjadi lebih manusiawi seperti daku perspektif Marxian? Tapi bukankah faktanya tak demikian? Kerja malah membuat kita kehilangan hidup, kita menjadi tak lebih dari sekadar sekrup dalam sebuah mesin besar, seperti ilustrasi Syariati. Kita tak lagi punya hidup, momen waktu yang dilewati dengan kesenangan manusiawi dan tanpa bayang - bayang kerja.

Seorang ahli, Stephen R. Covey bahkan mengeluarkan resep agar kita bisa menjadi sekrup yang awet dan tidak cepat aus di dunia kerja: Asahlah Gergaji. Demikian sarannya dalam The 7 habits for Highly Effective People. Menurutnya, sebuah gergaji tidak akan efektif bila dipakai selama berjam-jam tanpa henti. Efektivitas penggunaan gergaji bisa dijaga bila diistirahatkan dan diasah secara rutin dalam jadwal reguler.

Lihatlah, dengan analogi gergaji yang diasah, Covey sesungguhnya sedang menegaskan bahwa waktu luang, akhir pekan, atau cuti bersama, tak lebih dari sebuah masa untuk mengasah gergaji, agar kembali menjadi tajam dan siap digunakan. Itu berarti, kita istirahat di malam hari, di akhir pekan, atau di saat cuti bersama, tak lebih agar kita bisa kembali bekerja dengan baik.

Bukankah ini sebuah ilustrasi terang betapa kerja telah menjadi sebuah lingkaran setan yang menakutkan dan penjara panoptik bagi kebebasan manusiawi kita? Mungkin itulah mengapa, Joko Pinurbo, menyindir kehidupan yang sedemikian dengan begitu sarkastik.
Tak ada lagi minggu dalam diriku,
seluruh tubuhku 
sudah jadi hari kerja
dan hari bicara

Tulisan ini pun sesungguhnya bekerja dalam logika waktu luang. Aku menulis sebagai sebentuk pengobatan, menyegarkan pikiran, menenangkan emosi, agar setelahnya, bisa kembali bekerja dengan baik, menjadi sekrup yang tak lekas aus. Mungkin begitupun dengan anda yang membacanya.

Namun setidaknya, selama dan setelah menulis serta membaca tulisan ini, kita bisa mengeluarkan sumpah serapah dan cacian terhadap belenggu dunia kerja. Walau setelahnya, kita lalu kembali menceburkan diri dalam belukar tak berujung itu, dan berpura - pura menikmatinya sebagai realitas hidup yang tak mungkin ditolak.

Hidup Kerja!

6.8.19

La Capila: Berkhidmat Pada Takdir

Standard
[06.08.2019] Berkhidmat Pada Takdir
.
Arti perkata: Ininnawa (hasrat hati) / mapato (tunduk dan patuhlah) / ko (kau) // alai (ambil ia) / pakkawaru (sebagai bentuk pengabdianmu) // toto (nasib) / teng (takkan) / lésang (bergeser/berubah) / mu (milikmu).
.
Galigo ini tak membutuhkan interpretasi konotatif. Setiap katanya mudah dimengerti. Meski beberapa kata sudah menjadi arkaik, seperti ininnawa, pakkkawaru, dan lésang.
.
Galigo ini bermakna anjuran untuk senantiasa mengendalikan  hasrat hati sebagai bentuk ketundukan pada takdir (toto) yang digariskan oleh Patotoé (Maha Penentu Takdir).
.
Berpasrah pada garis nasib adalah sebuah prinsip yang sama kuatnya dengan anjuran untuk berikhtiar tanpa kenal menyerah. Berpasrah bukan menyerah, melainkan kepatuhan yang patut untuk dipersembahkan kepada Tu(h)an.
.
Ketundukan per se ini menjadi kerangka dasar mengapa kesetiaan seorang Bugis tak pantas diragukan. Karena berkhidmat pada takdir adalah jalan hidup agar kita tidak terjerembab pada ceruk dalam takdir buruk (toto macilaka).
.
Seperti lagu berikut: Tunru'ko nalureng toto // Aja' muléga' - léga' // Mabuang ammengko. Dalam hidup, janganlah berkelok liku, jangan terlalu banyak kemauan. Jalani saja dengan pésona, ketundukan dan kepatuhan yang sublim.
.
Pahami pula bahwa ikhtiar bukan demi hasrat pribadi, melainkan upaya menjemput takdir. Maka bila manusia Bugis meyakini lintasan jalan takdirnya, jangan coba memasang aral, sebab mereka akan melindasnya, sesulit apapun itu.
.
Kepatuhan itu menjadi bukti bahwa manusia Bugis mengakui toto sebagai hak prerogatif Tuhan, manusia hanya menjalani. Seperti pesan leluhur: Résopa na teng mangingngi // Malomo nalétéi // Pammasé déwata. Lihatlah, tegasnya kelindan tak terurai antara kerja keras dan ikhtiar tak kenal menyerah dengan hadirnya keberkahan dari Tuhan.
.
Karena takdir bukanlah sesuatu yang terberi, manusia harus menyiapkan kondisi yang memungkinkan toto itu terpenuhi. Di sinilah posisi pesona dan pakkawaru itu bersemayam, berkhidmat untuk melapangkan jalan bagi termanifestasinya takdir Allah.
.
#galigo #galigobugis #bugis #bone #soppeng #wajo #barru #pinrang #luwu #sinjai #sajak #elong #sastra #sastradaerah #lagaligo #bugismilenial

14.6.19

La Capila: Berteguh Dalam Keyakinan

Standard
[14.06.2019] Berteguh Dalam Keyakinan
.
Arti perkata: Mau (walau) / telleng (tenggelam) / salompé'na (anjungannya) /
Na (apabila) iyyamo (ini dia) lopié (perahunya) / Tunru'ka' (aku patuh) / nalureng (jadi penumpang)
.
Galigo ini menggunakan kata yang tak membutuhkan interpretasi konotatif. Setidaknya, hanya kata salompé'/salompo/salampé' yang tidak lagi digunakan dalam keseharian seiring memudarnya kebiasaan melaut masyarakat Bugis.
.
Bila ditilik berdasar arti perkata, galigo ini berarti: Meski telah terendam anjungannya, aku akan tetap bersetia untuk berada di atas perahu ini. Walau demikian, sebagai sebuah stanza, galigo ini pun mengandung makna interpretatif.
.
Secara sederhana, galigo ini adalah ungkapan kesetiaan dan komitmen untuk berteguh pada warekkeng (pegangan), buhul yang kukuh. Bukankah ini serupa dengan perkataan Sang Nabi, "berpeganglah pada agama ini, meski kau harus memakan urat kayu."
.
Demikianlah kiranya, orang Bugis tak akan bergeser dari sesuatu yang telah ditetapinya sebagai kebenaran, atau dipilihnya menjadi keyakinan. Inilah yang disebut toddo' puli. Ibarat paku yang dipasang mati, kecil kemungkinan mencabutnya kembali.
.
Galigo semakna, dengan idiom serupa bisa dilihat pada stanza berikut:
Mauna ri cappa' sompe' (8)
Ri munri pallajareng (7)
Rékko tonang mua' (6)
.
Secara perkata: Mauna (Walaupun) / ri cappa' (di ujung) / sompe' (layar) / Ri munri (di belakang) / pallajareng (tiang layar) / Rékko (apabila) tonang mua' (aku naik).
.
Saking pentingnya bergabung dalam kafilah kebenaran yang diibaratkan sebagai perahu layar, maka walau sekadar di ujung kain layar sekalipun, atau di balik tiang layar, tiadalah mengapa.
.
Demikianlah orang Bugis menegaskan komitmennya.
.
#galigo #galigobugis #bugis #bone #soppeng #wajo #barru #pinrang #luwu #sinjai #sajak #elong #sastra #sastradaerah #lagaligo #bugismilenial

1.6.19

Masjid Daeng Matteru

Standard

[07.04.2019] Namanya Daeng Matteru. Warga kampung yang belum pernah menginjakkan kaki di masjid walau sekali, semenjak aku menjadi imam di sini, di kampung ini.

Penasaranku padanya bermula saat Puang Cambang --donatur tunggal yang telah menyulap masjid di kampung tersebut menjadi begitu megah dan menunjukku menjadi imam, mendekatiku seusai tarawih.
     “Sudah lima belas ramadan, Ustaz.” Serunya saat masjid sudah sepi.
     “Iya Puang. Alhamdulillah, jamaah masih bertahan.”
     “Iya, menggembirakan. Cuma…” Puang Cambang menghela nafas panjang.
     “Ada hal yang masih mengganjal di hati, Ustaz.” Lanjutnya.
     “Apa gerangan, Puang?”
     “Soal anak – anak yang sering gaduh, dan soal Daeng Matteru.”

Mendengar soal anak – anak, itu sudah biasa, tapi Daeng Matteru? Ada apa dengan lelaki paruh baya itu?
     “Daeng Matteru belum pernah datang salat, Ustaz.” Puang Cambang menerka keherananku.
     “Begini saja. Kalau Ustaz berhasil membujuknya untuk salat di masjid ini, saya akan bersedekah padanya di tiap bulan. Bagaimana?”
     “Puang Cambang, serius?”
     “Insya Allah, Ustaz siap membujuknya?”
     “Akan saya coba, Puang. Insya Allah.”
     “Tolong, soal sedekah itu jangan disampaikan dulu ya, saya takut niatnya nanti tidak tulus.” Puang Cambang pun berlalu.
*     *     *

Sore, aku menyambangi kediaman Daeng Matteru di ujung kampung. Kulihat Daeng Matteru bercengkerama dengan belasan bocah di sela bedeng yang ditanaminya bermacam sayur. Ia tinggal sendiri, istrinya telah meninggal berbilang tahun, mereka tak punya anak.

Aku kian mendekat. Rupanya, anak – anak yang dia temani adalah mereka yang suka bergurau di masjid. Kebetulan yang menguntungkan. Setelah menjawab salamku, Daeng Matteru menjabat tanganku.
     “Wah, ada Ustaz. Ayo anak – anak, salim ke Ustaz.”
     “Kalian pulang dulu ya, saya ada urusan dengan Ustaz, nanti besok kita main lagi.” Lanjutnya. Dia menyilakan masuk, aku memilih berbincang di teras.

Kami duduk bersisian di bangku. Daeng Matteru lebih dahulu memulai percakapan.
     “Terima kasih Ustaz telah berkunjung. Sungguh bahagia mukim saya didatangi seorang ustaz, di bulan ramadan pula, rasanya seperti mendapatkan lailatul qadr.” Daeng Matteru mendahuluiku.
     “Ah, Daeng bisa saja. Maaf, kedatanganku telah mengganggu.”
     “Mana berani saya merasa terganggu, Ustaz.”
     “Jadi begini, aku melihat hubungan Daeng dengan anak – anak tadi lumayan dekat…”
     “Benar Ustaz, kami memang dekat. Ada masalah, Ustaz?” Mata Daeng Matteru agak mendelik.
     “Bukan begitu, Daeng. Anak – anak itu, saban malam mereka ribut di masjid.”
     Hehehe… Bukankah anak – anak memang masanya bermain, Ustaz? Bukankah bermain di masjid juga bukan perbuatan terlarang dalam agama?”
     “Betul. Tapi menjadi masalah ketika mereka bermain di saat kami sedang salat isya dan tarawih, mereka berlarian di sela saf, terutama di barisan belakang.” Terangku, Daeng Matteru manggut – manggut.
     “Jadi apa yang bisa saya bantu, Ustaz?”
     “Bisalah sesekali Daeng hadir di masjid dan menjaga agar mereka tidak ribut di saat salat.”
     Kalau itu, mudah saja Ustaz. Insyaallah saya akan datang.” Daeng Matteru meyakinkanku.
*     *     *

Malam hening, bacaan tahiyatku merambat memanjat lengang. Salat kupungkas dengan salam yang kuimbuhi zikir dan doa bersama jamaah. Begitu kata amin menggega di ujung al Fatihah, seseorang menepuk bahuku dari belakang, Puang Cambang.
     “Sepertinya kamu berhasil, Ustaz. tidak ada lagi anak – anak yang gaduh.”
     “Iya, Puang….” Ujarku sambil melirik ke seluruh jamaah yang mulai membubarkan diri, termasuk Puang Cambang. Tak ada Daeng Matteru di sana.

Saat kaki kananku menjangkau teras masjid, seseorang tiba – tiba berdiri takzim di hadapanku.
     “Saya sudah laksanakan tugasku, Ustaz.” Muka Daeng Matteru semringah.
     “Alhamdulillah, anak – anak memang sudah tidak ribut, Daeng. Tapi, tadi di bagian mana?” Tanyaku sambil mengajaknya duduk di teras masjid, di atas sajadah yang kuhamparkan.
     “Maksudnya, Ustaz?”
     “Maksudku, waktu salat tadi, Daeng Matteru berdiri di saf sebelah mana?”
     “Oh, saya cuma berdiri di dekat pintu, Ustaz. Tugas saya cuma mengawasi anak – anak agar tak gaduh, kan? Hehehehe….” Jawabnya cengengesan.
      “Tidak ikut salat?”
     “Tidak, Ustaz. Insyaallah nanti saya salat di rumah saja.”
     “Kenapa?” Tanyaku sambil menepuk pundaknya.
     “Salat di rumah tidak apa – apa kan, Ustaz.”
     “Tidak apa – apa, tapi salat di masjid juga tidak apa – apa.”
     “Saya yang apa – apa, Ustaz. Saya merasa belum pantas menginjakkan kaki di masjid.”
     “Maksud Daeng?”
     “Saya belum suci, Ustaz.”
     “Daeng tidak tahu berwudu?
     “Tahu”
     “Lalu?”
     “Saya teringat kata Allah, wa tsiyaabaka fathahhir, wa al-rujzah fahjur.” Cara Daeng Matteru melantunkan ayat ketiga dan keempat surah al Muddatsir dengan sangat indah, membuatku seperti tersengat kalajengking.
     “Bukankah tubuh ini adalah pakaian bagi jiwa? Jangankan jiwaku, tubuh inipun rasanya masih penuh dosa dan kemusyrikan.” Daeng Matteru melanjutkan, sekilas kulihat tubuhnya bergetar. Aku pikir, dia memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam.
     “Kemusyrikan itu di pikiran dan keyakinan, Daeng. Bukan di tubuh.” Aku mencoba meyakinkannya.
     “Saya kadang masih berlebihan menyantap makanan di saat berbuka, itu sebentuk kemusyrikan bagi tubuh, kan Ustaz?”
     “Maka masuklah ke masjid, Daeng. Allah akan memberikan petunjuk-Nya.”
     “Sungguh takut saya kepada Allah yang telah menyebut kemusyrikan sebagai najis, dan Dia pun melarang si najis untuk mendekati masjid. Tentu Ustaz lebih paham maksud kalimat Allah dalam at Taubah ayat 29 itu. Apalagi masjid ini begitu bersih, mana pantas bangsat seperti saya ini memasukinya?” Mendengar jawabnya, aku makin tertantang untuk mengajaknya salat di masjid.
      “Lalu apakah dengan salat di rumah, Daeng merasa itu bukan di masjid?”
     “Tentu demikian, Ustaz. Bukankah jelas beda rumah dengan masjid?” Mendengar jawabnya, aku melihat peluang.
     “Apakah Daeng tahu bila masjid itu bermakna tempat sujud? Berarti saat Daeng Matteru bersujud di rumah, maka rumah itu telah menjadi masjid.”
     “Wah, tidak bisa begitu, Ustaz.”
     “Mengapa tidak bisa?” Daeng Matteru terdiam, mungkin mencoba mencerna tanyaku.
     “Dalam Alquran, masjid juga tidaklah bermakna bangunan. Tentu Daeng Matteru pernah mendengar ayat Alquran tentang Masjid Alharam dan Masjid Alaqsa. Saat ayat itu turun, Masjid Alharam mengacu ke pelataran Kabah dan Masjid Alaqsa hanyalah sebongkah batu besar di Palestina.” Kulihat Daeng Matteru tercenung.
     “Bahkan para alim meyakini bahwa badan kita ini, yang Daeng Matteru sebut bergelimang dosa dan kemusyrikan, sesungguhnya adalah bait Allah, tempat ruh Allah bersemayam. Maka untuk membersihkan dosa dan kesyirikan yang melekat, masukkan masjid ke dalam diri kita, jadikan tubuh ini layak disebut bait Allah.” Kembali aku menohoknya.
     “Tapi tak mungkin masjid itu masuk ke dalam diri kita, bila kita tak pernah memasukinya.” Suasana lalu hening, dari kejauhan kudengar anjing melolong panjang.
*     *     *

Malam ke dua puluh tujuh ramadan, usai mengimami jamaah, ekor mataku menangkap bayangan Daeng Matteru bersujud di pojok masjid, panjang dan dalam.


25.5.19

La Capila: Integritas dan Kebahagiaan

Standard
[25.05.2019] Galigo kali ini, masih mengikuti pola umum galigo Bugis, baris pertama menggunakan 8 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ketiga terdiri dari 6 suku kata.
.
tinulu kuala lonré (8)
pata kuala guling (7)
pésona sompe'ku' (6)
.
Arti per kata: tinulu: rajin / kuala: kuambil (kujadikan) / lonré: biduk (kendaraan) // pata: tekun / kuala: kuambil (kujadikan) / guling: kemudi // pésona (berserah diri) / sompe'ku' (layarku)
.
Galigo ini tidak terlalu rumit untuk diartikan dan dimengerti. Idiom - idiom yang digunakan juga tidak membutuhkan penafsiran konotatif, sebab makna denotatifnya terang benderang.
.
Kelebihan galigo ini, bak umumnya galigo Bugis, mengandung kata - kata arkais, yakni kata lonré yang berarti biduk, sesuatu yang dikendarai, pata atau pato yang bermakna tekun, serta pésona yang berarti berserah diri.
.
Secara utuh, galigo ini dapat dipahami sebagai ujaran perihal hakikat kebahagiaan. Kebahagiaan dalam perspektif galigo ini, bukanlah hal yang terberi, ia sesuatu yang diraih melalui perjuangan dan kerja keras sepanjang hayat.
.
Untuk menggapai bahagia, maka rajin (tinulu) menjadi karakter utama dalam mengarungi samudera hidup. Namun rajin saja tak cukup, nafas panjang perjuangan, perlu dibina dan dijaga melalui ketekunan (pata/pato).
.
Agar rajin dan ketekunan itu bisa berbuah keberkahan hidup, berserah diri menjadi nilai pamungkas yang patut dijunjung tinggi. Ini menunjukkan bagaimana manusia Bugis senantiasa melibatkan kuasa Tuhan yang Esa (Déwata Séuwwaé) dalam segala hal.
.
#galigo #lacapila #bugis #sastrabugis #sastra  #bugismilenial #bugispedia

11.5.19

Ramadan 6 Luruskan Saf, Rapatkan Sajadah

Standard
[11.05.2019] Bila kita sering berjamaah di masjid, tentu kita tak lagi asing dengan aba - aba, "Luruskan saf dan rapatkan barisan", bahkan pada beberapa masjid, seruan itu maaih bersambung, "Sesungguhnya lurus dan rapatnya saf adalah bagian dari kesempurnaan salat berjamaah."

Mengenai seruan ini, seorang kawan, bila kami memintanya menjadi imam, akan menambahkan kata - kata yang dia sesuaikan dengan realitas generasi milenial. Berikut kalimatnya: "Gulung celana dan matikan hape!"  Dia menganggap masalah celana dan masalah hape jamaah harus diatur saat akan salat berjamaah.

Mengapa masalah celana harus diatur? Menurutnya, hari ini kaum muslimin sudah jauh dari cara berpakaian nabi, terutama dalam hal memanjangkan kain hingga ke bawah mata kaki. "Nabi itu, pakaiannya cingkrang, di atas mata kaki, dan beliau menganjurkan agar kita sebagai umatnya melaksanakan sunah tersebut."

Sementara perihal hape, mengapa ini perlu diingatkan, tentu agar kita terhindar dari gangguan nada dering atau getarnya. Apalagi, fenomena ini memang mengherankan, sudah jelas orang ke masjid untuk beribadah, mengapa pula membawa atau mengaktifkan hape? 

Kalau kita jeli, kita bisa belajar dari para pemain bola profesional. Mengapa mereka tidak membawa hape ketika masuk lapangan hijau saat mau berlatih atau bertanding? Apakah mereka tidak punya hape canggih? Tentu saja punya. Mereka tak membawanya ke dalam lapangan karena mereka ingin fokus dan total dalam permainan.

Lalu mengapa sebagian kita tetap saja asyik dengan hapenya saat ingin bertemu dan beribadah kepada Allah? Bagaimana bisa kita mengaku fokus dan mencapau derajat khusyuk, namun tetap menenteng dan mengaktifkan hape saat memasuki masjid? Bahkan untuk me-non aktifkan-nya saja begitu susah?

Kembali ke soal aba - aba "Luruskan saf dan rapatkan barisan" di bulan ramadan ini, menjadi problem tersendiri, terutama pada soal merapatkan barisan. Tahukah? Para jamaah, terutama yang baru muncul batang hidungnya di masjid selama ramadan, datang dengan membawa sajadah yang super lebar.

Ini juga fenomena menarik nan mengherankan, seperti soal hape tadi. Buat apa kiranya membawa sajadah tebal, lebar nan wangi? Padahal masjid sudah menyediakan karpet salat yang tidak kalah tebal dan wanginya? Maka jadilah, karpet masjid yang tebal, dilapisi dengan sajadah tebal pula, tak jauh beda dari kasur nan empuk. Ini mau salat atau tidur nyenyak?

Problem lain soal sajadah ini adalah, karena ukuran sajadah yang super lebar, jadinya kita tak bisa memenuhi sunnah untuk merapatkan saf, yang terjadi adalah merapatkan sajadah dan saf tetap saja jarang - jarang. Setiap orang seperti enggan menginjak sajadah orang lain, dan memilih berdirih dengan gagah di atas sajadah masing - masing.

Nampaknya, aba - aba yang menarik untuk diucapkan oleh seorang imam di hari - hari ramadan ini adalah, "Luruskan saf, rapatkan barisan, lipat sajadah, gulung celana, dan matikan hape." Bahkan di hari -hari mendatang, jumlah anjuran dan larangan dalam aba - aba jelang takbir al ihram itu akan bertambah seiring makin kompleksnya gaya umat yang menjenguk masjid.


Makassar, 06 ramadan 1440