Catatan Rindu Di Sela Rimbun Alismu


Tak lelah aku mengurai rindu di rimbun alismu, menyusur di sela berumpun-rumpun bulu yang melengkung indah, seperti pelangi di ujung hujan, tepat di bawah jidatmu.

Saat kupenat dengan hidup yang kian berat, selalu kuhirup aroma hutan pinus yang segar. Bebau yang membangkitkan kenangan silam, saat kita masih sepasang sayap pada seekor kupu-kupu biru dengan totol-totol keemasan. Bebas terbang meliuk-liuk, dan kita berbagi keseimbangan dengan mengepak berbarengan.

Kini, kita sepasang kekasih, saling berbagi senang dan riang. Meski tak jarang berbagi perih dan ngaga luka, namun semua terasa menyenangkan.

Bila resah mendera dan gelisah membelasah, selain menyambangi pelangi di alismu, akupun kadang mendekam di labirin lesung pipimu. Liang mungil di sisi pipimu yang tirus, membusur cantik seperti bulan sabit di awal terbit, ibarat ayunan tempat bayi-bayi istirah. Di dekap hangat senyum teduh, terlelap dalam buaian lembut semilir nafasmu.

Enam tahun sudah, aku menjadi pengunjung rutin rimbun alis matamu dan menghuni abadi lesung pipimu. Kita merangkai kenangan dalam jahitan waktu, merajut kisah dalam sulaman masa. Merawat dua kuntum kembang yang menanti saat tepat untuk mekar menebarkan harapan, dan seekor kumbang yang siap menerbangkan kenangan.

Masih ingatkah kau ketika kita masih sepasang tekukur yang belajar untuk saling merayu? Dengan kerling tertahanmu setengah malu, kau membuatku tak mampu berpaling dari lentik bulu matamu. Sambil mengintip ke sudut matamu yang bening, aku bersiul lirih, mendendangkan sepenggal syair lagu kesukaanku:

Tellonno ta siduppa mata
Ta kawing nawa-nawa
Ta sibêtta cinna

Lalu kita pun bersitatap, saling membuka pintu hati dan melapangkan jiwa, menautkan serpih rasa yang terserak dalam ikatan yang terberkati. Kita lalu berlomba untuk mengakui bahwa rindu adalah derita yang indah, derita yang selama ini kita nikmati diam-diam.

Kini, memasuki tahun ketujuh kebersamaan ini, aroma pinus rimbun alismu telah menjelma asap setanggi di kuil jiwaku, aroma yang mampu meredam gejolak amarah yang kadang menyembul tak terduga, menenangkan geliat hasrat yang tak terkendali.

Ah, tak kuasa aku melanjut tulisan ini, mari kita berbalas syair dalam rindu yang sederhana:

Turu mêmenni cinnamu
Ritenna êsata mopa
Alla lompêngeng ri majêng

Silolongeng arê’ matti
Coppo’na paddukkuna
Alla wirinna tengngana

# Ketiga penggal syair dalam tulisan ini dikutip dari lagu ‘Bulu Alau’na Têmpê’, ciptaan Abdullah Alamudi. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama