[31/12/2013] Sebentar malam, kita
sudah memasuki tanggal 1 Januari 2014. Bagi pengguna almanak versi Gregorian,
itu berarti bahwa sebentar malam adalah Tahun Baru, tahun yang berbeda dari
tahun sebelumnya.
Karena dia momentum yang cuma terjadi
sekali setahun, maka dia pantas disambut dengan sukacita. Disambut dengan berbagai pesta dan
keriuhan, dentum tetabuhan dan lengking terompet, serta letusan petasan dan
pecahan kembang api.
Eh, tak boleh terlupa, berpuluh dan beratus pesan singkat dan panjang, baik dikirim via short message system atau blackberry messenger, berseliweran terkait tahun baru. Ada yang mencela, ada yang memuja, dan ada juga yang mencoba memberi nasehat.
Bahkan sebagian kita --semoga bukan sebagian besar kita, menyambut kedatangan tahun baru dengan lelaku yang tak lazim, lelaku yang diharamkan oleh berbagai agama dan aktivitas yang terlarang dalam berbagai tradisi.
Yang paling masyhur adalah menyambut tahun baru dengan dentuman suara petasan, lengking suara terompet, dan pecahan kembang api yang membakar angkasa. Aktivitas yang tak pernah dipertanyakan tentang keabsahan asal-usul dan latar belakangnya.
Eh, tak boleh terlupa, berpuluh dan beratus pesan singkat dan panjang, baik dikirim via short message system atau blackberry messenger, berseliweran terkait tahun baru. Ada yang mencela, ada yang memuja, dan ada juga yang mencoba memberi nasehat.
Bahkan sebagian kita --semoga bukan sebagian besar kita, menyambut kedatangan tahun baru dengan lelaku yang tak lazim, lelaku yang diharamkan oleh berbagai agama dan aktivitas yang terlarang dalam berbagai tradisi.
Yang paling masyhur adalah menyambut tahun baru dengan dentuman suara petasan, lengking suara terompet, dan pecahan kembang api yang membakar angkasa. Aktivitas yang tak pernah dipertanyakan tentang keabsahan asal-usul dan latar belakangnya.
Pada mulanya, ritual tahun baru didedikasikan untuk
meneladani Dewa Janus, dewa yang juga dikenal sebagai dewa waktu karena dia
mampu menjangkau masa lalu dan masa depan sekaligus berkat mukanya yang dua
sisi, satu mukanya menghadap ke belakang, satunya lagi menatap ke depan.
Karena meneladani Janus pula, biasanya, tahun baru
diisi dengan melakukan evaluasi atas berbagai pencapaian selama tahun yang akan
berakhir, dan membuat serangkaian resolusi baru untuk diwujudkan pada tahun
yang menjelang.
Namun sekarang, tahun baru disambut dengan
menghambur-hamburkan uang untuk mencapai ekstase pada sebuah keriuhan yang
maksimum. Ratusan juta harus dikeluarkan untuk membayar harga petasan dan
kembang api yang dibakar di malam tahun baru.
Belum lagi bahan bakar yang terbakar habis oleh konvoi
para penikmat malam tahun baru, terompet dari berbagai bahan baku, semua
menambah jumlah pengeluaran pada malam tahun baru. Semua menjadi lebih
permisif, konsumtif dan boros.
Maka tak ada lagi yang mengingat untuk melaksanakan
sunnah dari Janus sebagaimana orang-orang Romawi dahlu memperlakukan tahun
baru, tak ada lagi refleksi, inisiasi, apalagi rumusan resolusi. Yang ada,
semua larut dalam keriuhan pesta.
Kita menyambut tahun baru dengan ajaran dari
agama-agama baru dan anjuran dari tuhan-tuhan baru, agama yang mengajarkan kita
untuk menyambut tahun baru dengan ibadah pesta, tuhan yang menganjurkan kita
khusyu dalam hura-hura.
Maka untuk menyambut kedatangan Tahun Baru 1 Januari 2014, mari kita saling memberi ucapan selamat demi kegembiraan bagi tuhan baru, dan kemeriahan si tahun baru yang akan kita sambut bersama, "Selamat Menyambut Tuhan Baru di Tahun 2014".
Tak lupa, mari kita menyempurnakan penyambutan ini dengan doa singkat, sebuah doa yang bisa menjadi washilah bagi terciptanya kekhusyukan melewati ritual tahunan ini. “Semoga kita kian glamour, komsumtif, permisif, hedonis, dan metroseksual. Amien...”.
Maka untuk menyambut kedatangan Tahun Baru 1 Januari 2014, mari kita saling memberi ucapan selamat demi kegembiraan bagi tuhan baru, dan kemeriahan si tahun baru yang akan kita sambut bersama, "Selamat Menyambut Tuhan Baru di Tahun 2014".
Tak lupa, mari kita menyempurnakan penyambutan ini dengan doa singkat, sebuah doa yang bisa menjadi washilah bagi terciptanya kekhusyukan melewati ritual tahunan ini. “Semoga kita kian glamour, komsumtif, permisif, hedonis, dan metroseksual. Amien...”.
Tags:
Refleksi