16.6.22

Mendulang Hikmat Dari Malaikat Menulis Dengan Jujur

Standard


[16.06.2022] "Memahami Allah dengan bantuan bacaan bagi saya adalah zikir yang terang". Ayat pintas ini dapat ditemukan di bawah anak judul Zikir (h. 21-26) buku bertajuk Malaikat Menulis Dengan Jujur, buah karya Ida Azuz. Sepenggal kalimat yang menghentak kesadaranku akan pengertian zikir yang selama ini kupahami. Rupanya, jalan makrifat bisa disusuri dengan membaca, sesuai perintah pertama Sang Maha Guru, Allah Subhanahu wataala. 

Apa yang disingkap Ida, penggubah yang juga seorang dosen cum aktivis ini, seakan menjadi panashih atas yakinku bahwa zikir tak harus mengalun dari bilik-bilik nan remang, dengan pezikir berbalut pakaian putih yang mematut-matut kesadaran akan maut yang mengintai. Bagi Ida, pun bagiku, tak perlu menanti maut bila sekadar ingin menjumpaiNya. 

Pembahasan perihal zikir hanyalah salah satu tema yang disingkap oleh Ida. Setidaknya ada 17 judul yang tersaji dalam kumpulan tulisan dengan pengantar manis dari seorang penulis kawakan, Hernowo. Kesemua tulisan mengajak pembaca untuk berefleksi atas berbagai kejadian-kejadian kecil yang dialami penulis --mungkin juga kita, tetapi dengan makna-makna besar. 

Tengoklah kelihaian perempuan berdarah Bugis-Ambon bernama lengkap Faidah Azuz Sialana ini merengkuh makna dari ketukan di pintu rumahnya kala ramadan hari ke 2 pada 6 Oktober 2005 (hal. 8-10). Si pengeruk pintu, seorang lelaki kurus, tetapi dengan sorot mata berbinar, datang menyodorkan kresek berisi makanan untuk berbuka, diiringi kalimat ringkas, "ini dari istri saya, Bu." 

Ida yang menyadari rumahnya lebih bagus dari rumah si lelaki, bahkan kamar Ida lebih sejuk dari si pemberi penganan, lalu melontar tanya reflektif ke dalam diri --pun kepada kita para pembaca, siapa sebetulnya yang lebih kaya? Siapa yang lebih dermawan? Ida dibelasah rasa sedih dan malu meski membalas pemberian itu dengan balasan yang lebih mahal secara rupiah. 

Ida pun teringat dengan dengan doanya seusai salat asar, sekira sejam sebelum lelaki kurus dengan tangan berurat tanda pemiliknya seorang pekerja keras itu mengetuk pintunya, "Ya Allah... tuntun saya untuk berubah, tuntun saya untuk mencapai perbaikan hidup... ajari saya memaknai semua yang Engkau ciptakan." 

Dari kejadian tersebut, Ida belajar perihal kelihaian Allah memberi rezeki dari arah yang tak disangka-kira, pun memetik hikmah perihal keberanian dan keikhlasan dari seseorang yang kekurangan secara finansial. Ida juga lalu menyadari betapa tindakan lelaki berpipi cekung, yang juga tukang becak langganannya telah mencegahnya dari kepongahan. 

Tengoklah pula kala Ida mendapatkan pengajaran soal cara berdoa yang makbul. Ilmunya tidak diperoleh dari ustaz-ustazah di forum pengajian dan pengkajian agama, melainkan dari seorang perempuan peranakan Cina-Ambon yang menetap di Surabaya sejak tahun 50an. Perempuan yang duduk di sampingnya di seat 14 dalam sebuah penerbangan dari Makassar menuju Surabaya (hal. 11-15) 

Kalau meminta jangan hanya mengandalkan tengadah tangan. Demikian Ibu Nona Tan --nama peranakan Cina-Ambon itu-- berbisik halus ke telinga Ida. Lanjutnya, kita mesti tunduk, sujud lama-lama, baca Al Fatihah, kemudian pada kalimat iyya na'budu wa iyyaka nasta'in, berhentilah di situ. Minta dengan penuh kerendahan hati. Sesudah itu, lanjutkan baca Al-Fatihah kembali, mulai dari ihdinashshiraatal mustaqiim dst. hingga amin. Angkat kepala pegang dada dan usap wajah. 

Lalu sebagai sesama perempuan berdarah Ambon, si perempuan tua itu melanjutkan bisiknya ke Ida dengan suara geletar dalam bahasa Ambon, "Angka hati par antua di atas". Ikhlaskan diri pada Allah, demikian Ida mengartikan. Nasihat yang membuatnya tercenung, bukan hanya karena lisan itu telah menelusupkan pemahaman ke relung terdalam kalbunya, tetapi Ida merasa wajah Ibu Nona Tan begitu teduh (h. 15). 

Catatan reflektif Ida lalu dilengkapi dengan beberapa kisah perihal suasana yang melingkupi kerusuhan Ambon, baik saat kejadian, maupun sebelum dan setelahnya. Soal terbakarnya perpustakaan Aba Agil di Batugantung Waringin, tempat Ida mengaji di era 70an. Atau suasana masjid Al-Mukhlishin sebagai satu-satunya bangunan yang tak terbakar di Batugantung, meski masjid itu pula yang menjadi saksi --menurut Ida-- bahwa ada jamaahnya yang murtad, sebab kerusuhan tak hanya meluluhkan bangunan, tetapi juga melantakkan tatanan sosial. 

Dengan lirih, Ida mengabarkan perihal bekas peluru yang disaksikannya menembus dalam lalu menyebar seperti tebaran paku di masjid Al-Mukhlisin. Betapa perih Ida dalam bisiknya, 'adakah luka itu juga membekas di hati saya?' (h. 76). 'Saya merasakan kulit-kulit saya seperti tertusuk. Saya mencintai masjid ini, saya bahkan kerap mengelus dindingnya (h. 77). 

Dengan emosi yang membuncah, Ida melanjutkan dengan gumam nan pedih, 'Saya juga menempelkan pipi di dinding yang luka secara sembunyi-sembunyi.... Betapa ingin rasanya saya mendengar bisikan masjid itu... dendangnya... kesahnya... Saya merasakannya sampai ke ulu hati. Betapa ingin saya menggelembungkan diri, menutupi luka masjid.' (h. 77) 

Lihatlah, betapa lihai Ida mengaduk-aduk jiwa dengan diksi yang lahir secara spontan dari hati. Ulasan ini pun lahir dengan mata yang berkaca-kaca. Strategi menulis Ida, oleh Hernowo dalam pengantarnya dinamainya menulis di ruang privat sebagai langkah awal, menulis secara subyektif. Gaya menulis yang akan berefek pada proses peningkatan kualitas diri dengan memperlakukan aktivitas menulis sebagai cara 'membuang' apa saja yang mengganjal di pikiran (h. xxii). 

Seperti dititahkannya sendiri, Ida melontar tanya, 'Bagaimana bisa saya membaca di dalam kegelapan' (h. 25). Lalu Ida menjawabnya sendiri, 'Saya membutuhkan zikir yang terang, lewat bacaan yang dituturkan dengan bahasa yang saya akrabi' (h. 26). Melalui 'Malaikan Menulis Dengan Jujur', Ida berhasil menghadirkan tulisan-tulisan dengan bahasa yang kita --pembacanya-- akrabi, bahasa yang menjelma menjadi zikir nan terang. Begitulah! 

Judul: Malaikat Menulis Dengan Jujur | Penulis: Ida Azuz | Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa | Cetakan: Pertama, Februari 2007 | Jumlah Halaman: 130 | ISBN : 979-3651-98-9




12.6.22

Doa Nasri Di Subuh Seribu Kubah

Standard


[12.06.2022] Ya Allah. Jika ia memang jodohku, maka dekatkanlah. Jika ia belum menjadi jodohku, maka segerakanlah. Jika memang ia bukan jodohku maka jodohkanlah aku dengan dia.

Ya Allah. Jika ia cinta padaku, maka tampakkanlah. Jika ia belum cinta padaku, maka jadikanlah rasa cinta padaku di hatinya. Jika memang ia tidak mencintaiku, maka buatlah ia mencintaiku. 

Doa itu dipanjatkan oleh Nasri sejak ia mulai aktif dan lalu jatuh hati pada seseorang di Corps Mahasiswa Islam (CMI), sebuah organisasi kemahasiswaan berideologi Islam yang pada awalnya dimasukinya secara setengah hati. Nasri Maulana adalah tokoh utama dalam novel setebal 334 halaman anggitan Saeful Ihsan, seorang aktivis yang juga penulis produktif yang bermukim di kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Novel ini seakan ingin menjawab tanya, apakah aktivis mahasiswa berlatar ideologi Islam tak punya lakon romantis yang layak dikisahkan? Saeful seakan berkata tentu saja tidak sepenuhnya benar. Mereka juga punya sisi merah jambu yang begitu menyentuh kalbu, bahkan terkadang amat sublim karena lebih beraroma platonik dibanding erotik. Bisa dibayangkan betapa unik geletar hati yang teresonansi oleh sepenggal nama yang hanya berani diucapkan di dua pertiga malam. 

Apa yang coba dibabar oleh Saeful Ihsan dalam 'Subuh Seribu Kubah' menjadi penanda bahwa menjadi aktivis yang ketat dalam menjaga muruah dan kehormatan pribadi melalui batasan-batasan syariah, terkadang malah bisa memicu resonansi rasa rindu yang mendayu, dengan letupan-letupan gelebah di sudut hati paling tersembunyi. 

Saeful mendedah perjalanan hidup Nasri sejak remaja di Tolitoli yang penurut pada orang tua hingga menjadi seorang aktivis mahasiswa di Palu yang mengharu-biru dalam ikhtiarnya memperjuangkan cinta di tengah terpaan gelombang dunia aktivisme yang bergulung-gulung. Dilengkapi dengan sikap orang tua yang kurang respek atas pilihan hidupnya. 

Saeful berhasil menggambarkan Nasri sebagai seorang aktivis muda dengan semangat melawan apapun yang dianggapnya keliru. Menggedor pintu kantor-kantor pemerintah yang dianggapnya kerilu mengambil kebijakan, merongrong kekuasaan rezim kampus, bahkan berani menghadapi paksaan kehendak dari orang tua. Sebuah pahatan jiwa pemberontak yang sempurna. 

Nasri memilih cuek terhadap perkuliahan sejak mengetahui bahwa intelektualisme telah lama menguap di sana, lalu memilih menjadi pemikir bebas bersama komunitas mahasiswa Islam yang gandrung mengulik beragam isu sosial, politik, dan kebudayaan yang menggugah daya kritis dan jiwa perlawanan. Hingga akhirnya hatinya terpaut pada gelegak jiwa yang senada, dari seorang aktivis berjilbab lebar dari komunitas yang sama. 

Komitmen untuk menggelar pernikahan dini dalam upayanya menegakkan sunah nabi dan menghindari dosa-dosa yang mungkin timbul dari hubungan asmara yang tak legal mendorong Nasri memantapkan hati untuk bekerja demi terkumpulnya biaya nikah yang dibutuhkan. Hal yang menimbulkan kemarahan orang tuanya yang menghendakinya agar menyelesaikan kuliah dahulu, baru berpikir soal membangun rumah tangga. 

Sebagai buku yang ditulis oleh seorang aktivis, jejak-jenak narasi pamflet mudah ditemukan. Seperti pada anak judul 'Agent of Change' seorang tokoh cerita mengungkap kalimat berikut, "Untuk menjadi aktor perubahan sosial atau agent of change, haruslah dimulai dengan berorganisasi. Tanpa organisasi, mahasiswa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan" (hal. 75). 

Kalimat ini mengingatkan kita pada kutipan tenar dari seorang jurnalis cum aktivis pergerakan sebelum kemerdekaan, Marco Katrodikromo. Dalam salah satu risalahnya yang bertajuk 'Student Hijo', Marco menorehkan kalimat cadas, “Didik rakyat dengan pergerakan dan didik penguasa dengan perlawanan”. Slogan ini lalu dikutip oleh Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu bagian dari tetralogi Buru, 'Jejak Langkah'. 

Keyakinannya akan keampuhan organisasi sebagai alat perjuangan dan perubahan sosial, Saeful membawa tokoh Nasri mencobai berbagai model organisasi. Berawal dari organisasi mahasiswa di tingkat jurusan, lalu merambah ke organisasi pecinta alam, sampai akhirnya jatuh ke pelukan organisasi mahasiswa yang berideologi Islam yang secara eklektik memadukan saya kritis yang cenderung liberal dengan pemahaman keagamaan yang terlihat puritan. 

Sejak itu, Nasri menjadi aktivis mahasiswa yang mumpuni di berbagai situasi dan Medan juang. Ia akan menjelma seperti singa podium dalam berbagai seminar atau forum-forum keilmuan. Berteriak garang saat memimpin demontrasi mahasiswa, lalu menjelma menjadi seorang yang fasih menyitir ayat dan hadits saat harus berbicara dalam pengajian yang dikemas dalam bentuk diskusi keagamaan secara kritis. 

Jejak langkah Nasri akhirnya menemukan muara tujuan ketika dirinya terjebak bersama seorang aktivis perempuan seorganisasi bernama Anggi Salsabila, pada sebuah upaya penyelamatan diri dari tindak brutal petugas keamanan yang membubarkan paksa aksi mereka di 9 Desember. Mereka berdua berlari menghindari gebukan pentungan, ujung sepatu, dan tembakan gas air mata, dan tanpa sengaja memasuki sebuah area pemakaman. 

Memang, itu bukan kali pertama mereka bersua. Bahkan dalam kesempatan sebelumnya, Nasri dan Anggi terlibat dalam kepanitiaan bersama di organisasi. Nasri menjadi ketua panitia, dan Anggi menjadi bendaharanya. Tapi perjumpaan Nasri dengan Anggi di kuburan itu adalah perjumpaan kali pertama dari dua pribadi secara personal. Perjumpaan yang membuat mereka bisa bersitatap dalam gemetar, tanpa harus menghalau khawatir bahwa menatap mereka yang bukan mahram adalah zina mata. Mereka lebih takut pada kejaran polisi, barangkali. 

Namun sejak itu, Nasri lalu fokus menata dan memantapkan diri untuk melangkah ke jenjang rumah tangga bersama Anggi. Hal itu dimulai dengan berbicara ke Anggi, ke orang tua Anggi, lalu ke orang tuanya sendiri. Anggi merespon positif dan menyerahkan soal itu ke orang tuanya yang ternyata tak menyoal lamaran Nasri. Mereka hanya meminta agar orang tua Nasri yang menyampaikan lamaran itu secara serius. Tapi justru di situlah masalahnya, bapak Nasri tak sepakat. 

Penolakan bapaknya, membuat Nasri membuat pilihan kritis dalam liku perjalanan hidupnya. Ia meninggalkan kampus, bekerja mencari biaya pernikahan. Sebab baginya, Anggi adalah sosok perempuan yang layak diperjuangkan, perempuan yang pantas menjadi teman dalam perjalanan hidup, dan calon ibu yang ideal bagi lahirnya generasi baru yang tangguh. 

Ada selaksa alasan yang bertumpuk di kesadaran Nasri bahwa Anggi tak boleh dilepaskan, termasuk kepada seorang pegawai kelurahan tempat Anggi menjadi tenaga honorer. Pegawai itu juga telah mengambil ancang-ancang ingin melamar Anggi. Hal ini membuat Nasri pernah sampai demam karena memforsir tenaga menjadi tukang ojek dan kurir demi mengumpulkan uang. Bahkan harus tergeletak di rumah sakit karena kecelakaan dalam perjalanan dari Luwuk ke Poso. 

Apakah perjuangan Nasri akan membuahkan hasil, dan ia menikahi Anggi? Atau ia akan menyerah pada ultimatum orang tuanya? Semua itu bisa dinikmati dalam 24 anak judul yang tersaji. Pada anak judul terahir, '5 Tahun Kemudian', Saeful menggambarkan suasana ramainya pengunjung Anjungan Nusantara di teluk Palu, sebuah tempat wisata yang disepadankan dengan Pantai Losari di Makassar. 

Di antara pengunjung itu ada Nasri dan istrinya yang ikut menikmati kuliner seperti jepa sagu, lalampa, sokko', putu, nasi kuning, nasi bambu, sarabba, dan jagung rebus, serta berfoto di tugu GMT, di huruf raksana 'Anjungan Nusantara', di bundaran patung kuda, jembatan warna-warni di sekitar taman bakau kecil, di jembatan kuning, atau di soki-soki --rumah-rumah kecil tanpa dinding, terbuat dari bambu. 

"Aku dan istriku termasuk salah dua orang ikut meramaikan anjungan pagi itu. Bukan kali itu saja, melainkan hampir setiap hari. Tadi saja, kami berada di tempat ini sedari lepas berjemaah subuh di Masjid Agung Darussalam Palu" (hal. 321). Demikian pengakuan Nasri memungkasi novel yang dipersembahkan oleh Saeful untuk istrinya, Anggun Safitri, dan anaknya, Latifah Victoria Ihsan. 

Judul: Subuh Seribu Kubah | Penulis: Saeful Ihsan | Penerbit: Ellunar Publisher | Cetakan: Pertama, November 2020 | Jumlah Halaman: 334 | ISBN : 978-623-204-688-7

5.6.22

Kak Tuty, Tulisan dan Tas Ransel

Standard


[05.06.2022] Mei 2007, iseng aku mengirim tulisan pada lomba menulis yang digelar oleh Badan Komunikasi, Informasi dan Penyediaan Data Elektronik Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional pada Tahun 2007. Tema tepatnya telah kulupa, mungkin seputar kepemimpinan di Sulsel, karena tulisanku bertajuk ‘Pemimpin Sulsel Masa Depan; Dari Aristokrasi ke MeritokrasiPemimpin Sulsel Masa Depan; Dari Aristokrasi ke Meritokrasi‘.

Sejujurnya, aku tak punya ekspektasi tinggi pada tulisan yang mengulas tentang tawaran model kepemimpinan yang layak dipertimbangkan untuk membangun kepemimpinan di Sulsel masa depan, yang kuikutkan pada lomba tersebut. Tapi tak dinyana, tulisan itu berhasil menarik perhatian para juri dan memberinya predikat juara II. Jadilah aku diundang menghadiri upacara Harkitnas 2007 di Gubernuran Sulsel, sekaligus menerima plakat dan sejumlah uang yang disiapkan panitia.

Ada kejadian lucu pada pagi itu, terkait lokasi upacara. Aku yang pengacara (pengangguran banyak acara) kala itu, sudah berbilang tahun tak terbiasa dengan aktivitas pagi, semisal upacara bendera. Maka jadilah aku kalang kabut menyingkirkan kebiasaan berleha-leha seusai subuh, seperti lazimnya pada hari-hari sebelumnya. Di pagi Harkitnas 2007 itu, aku sudah rapi jali semenjak pagi. Bayangkan saja, aku diminta hadir mengikuti upacara pada jam tujuh pagi, sementara aku tinggal di Sudiang, sebuah wilayah Makassar yang kadang dirisak sebagai kawasan luar kota Makassar.

Dengan tergesa, kujangkau jalan raya, mencegat pete’-pete’ (sebutan bagi angkot di Makassar) dengan tujuan ke pusat kota. Kurang lima menit pukul tujuh pagi, aku turun dari pete’-pete’, tepat di depan pintu masuk Kantor Gubernur Sulawesi Selatan lalu berlari masuk menuju lapangan upacara di halaman belakang. Tapi apa lacur? Tak ada sesiapa di lapangan itu, hanya rumput yang bermandi cahara matahari. Pelaksana mencariku di ponsel, mengapa aku terlambat? Dalihku, aku sudah di lokasi, tapi tak ada satupun peserta upacara.

“Kamu di mana?” Suaranya memburu dari balik pelantang suara di ponsel.

“Aku di lapangan upacara Kantor Gubernur, Bu!” Jawabku.

“Astaga, upacara bukan di situ.”

“Lalu di mana, Bu?”

“Di Gubernuran.”

“Di mana itu?”

“Di jalan Hasanuddin. Segera ke sini.”

“Baik, Bu.”

Aku berlari, kembali menumpangi angkot, menuju tempat upacara. Sepanjang jalan, aku merutuki diri yang tak mengetahui bahwa Kantor Gubernur dengan Gubernuran adalah dua tempat yang berbeda.

Tentu saja, begitu tiba di Gubernuran, aku sudah terlambat. Peserta upacara telah bubar, tinggal beberapa orang yang berada di bawah tenda tamu kehormatan. Kukontak panitia, yang ternyata masih menanti kedatanganku dengan sabar di bawah tenda. Segera kusambangi seorang perempuan yang melambaikan tangan begitu pandang mataku tertuju padanya. Di dekatnya, duduk seorang lagi. Sepertinya, mereka berdua sepakat menantiku.

Aku mendekat, lalu berkenalan. Perempuan yang berdiri adalah yang meneleponku tadi, Tuty Suciaty Razak namanya, penanggungjawab kegiatan lomba menulis. Sementara ia yang duduk, adalah salah seorang peserta yang menjadi juara I, Faidah Azuz Sialana. Dengan siap ibu Tuty menyerahkan plakat dan sejumlah uang sebagai hadiah bagi juara II, kepadaku. Betapa senang hatiku.

“Kamu anak HMI?” Tanya ibu Tuty.

“Iya, Bu.”

“Wah, keluarga hijau hitam berarti.” Tanggapnya.

“Ca Ida juga HMI, dari Cabang Ambon.” Lanjut ibu Tuty sambil menunjuk ke ibu Faidah. Kami lalu bercerita tentang berbagai hal, terutama soal dunia kepenulisan, kepemimpinan di Sulsel, dan tentu saja, pengalaman ber-HMI hingga pertemuan bubar. Aku yang paling pertama meninggalkan lokasi. Sejak itu, aku tak lagi menyapanya ibu, melainkan kak, atau yunda. Sementara sang juara I, kusapa dengan kak, yunda, serta seringkali caca.

Itu awal aku mengenal perempuan mungil bermata teduh, dengan bibir yang senantiasa tersenyum. Pasca perjumpaan itu, aku masih sering berinteraksi dengan kakak yang baik hati itu, terutama Kak Tuty, dalam urusan tulis menulis. Aku yang masih juga pengacara, dilibatkan dalam pengelolaan Buletin Info Sulsel yang diterbitkan oleh kantornya Kak Tuty, hingga awal tahun 2008, tentu dengan honor yang lumayan membantu bagi seorang nomaden seperti aku. Hingga akhirnya saya dinyatakan lulus menjadi CPNS Pemprov. Sulsel dan resmi mengenakan baju dinas pada April 2008.

Jelang penerimaan SK sebagai CPNS, Kak Tuty sekali lagi memberiku bantuan tak berpamrih yang tak akan bisa kulupa. Siang itu, sehari sebelum penerimaan SK, saat mengambil undangan dari BKD Prov. Sulsel, aku bingung karena ternyata harus mengenakan baju seragam warna khaky.  Tak ada waktu untuk menyiapkannya. Maka dengan tergopoh, kutemui Kak Tuty. Seperti sebelum-sebelumnya, beliau dengan tulus membantu meminjamkan seragam dari stafnya.

Setelah aktif masuk kantor di Inspektorat Prov. Sulsel, intensitas perjumpaan dengan Kak Tuty menjadi berkurang, kami hanya komunikasi via media sosial. Apalagi sejak beliau pindah ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Sulawesi Selatan, aku seperti kehilangan jejaknya, meski sesekali masih kuintip dan menyapanya dinding facebooknya.

Pada akhir tahun 2020, tiba-tiba Kak Tuty kembali membuatku terharu, kakak yang baik hati itu tak pernah melupakanku, adik yang seringkali merepotkannya. Beliau merekomendasikan namaku ke pengelola portal http://sulselprov.go.id untuk menggantikannya mengisi rubrik opini di media resmi Pemprov. Sulsel tersebut. Kutunaikan amanah beliau dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk penghargaan dan terimakasih atas kepercayaannya padaku.

Oh ya, satu hal paling kuingat adalah sarannya yang mampu mengubah kebiasaan ku menggunakan tas model jinjing menjadi tas model ransel. Sebelum mengenal Kak Tuty, aku termasuk fanatik menggunakan tas jinjing, bahkan untuk pakaian sekalipun. Tapi sejak malam itu (lupa tahun berapa), Kak Tuty berhasil mengubah seleraku mengenai pilihan model tas yang pas, terutama saat mengendarai motor.

Malam itu, saat menuntaskan percakapan soal beberapa tulisanku yang kuperlihatkan padanya di ruang tamu rumahnya di Jalan Nuri No. 24 Makassar, aku pamit untuk pulang ke Takalar (saat itu aku masih bolak-balik Makassar-Takalar). Sambil mengantarku hingga ke pinggir jalan menunggangi motorku, Kak Tuty berkomentar lirih, “Coba pakai tas ransel, akan lebih praktis itu.” Usulnya kubalas dengan senyum, dan sejak saat itu, hingga kini, aku senantiasa mengenakan tas ransel, termasuk bila tugas ke luar daerah dengan membawa persediaan pakaian ganti yang lumayan bejibun.

Lalu setahun lalu, mataku tiba pada laman Facebook-nya, 4 Juni 2021. Ucapan berduka berseliweran di sana. Sejak lama tak bertukar kabar, mataku nanar menatap. Kak Tuty berpulang, memenuhi panggilan Tuhannya. Tak cukup kata mengucap duka, aku tergugu, tertunduk kelu. Kakak yang baik itu telah menunaikan tugasnya. Temui Rabmu dengan senyum terindahmu Kak, doaku menyertaimu selalu. Hari ini, izinkan aku kembali mengenang kebaikan-kebaikanmu, dan memanjatkan doa untukmu.

Ilustrasi: Sitti Rofiqoh RazakSitti Rofiqoh Razak

4.5.22

Perilaku Koruptif Di Hari Raya

Standard


[04.05.2022] Ramadan telah berlalu, Idulfitri pun sudah diriuhkan dengan ibadah, silaturahmi, berbagai penganan, juga pakaian baru. Saatnya merefleksi berbagai lampah yang mungkin tersilap dan berlaku lajak.

Salah satu tindak yang menarik dicermati adalah kebiasaan untuk mengaveling posisi salat Idulfitri. Laku ini dilakonkan terutama oleh jemaah perempuan.

Sejak subuh, sajadah mereka telah terhampar rapi di sepanjang saf salat. Meski yang datang salat subuh berjemaah hanya segelintir orang, tetapi sajadah yang terhampar bisa seantero masjid.

Tak jarang, kegaliban ini difasilitasi oleh pengurus masjid, atau panitia perayaan hari Idulfitri, entah karena ada imbalan tertentu, kedekatan darah, atau tekanan akibat status sosial yang berbeda.

Tentu saja, niatan untuk melaksanakan ibadah salat Idulfitri di saf depan adalah hal yang baik dan dianjurkan, patut diapresiasi secara positif. Ini menandakan bahwa jemaah menyadari pentingnya berlomba dalam kebaikan.

Namun, masalah lalu timbul, saat jemaah telah bergegas dan berbondong-bondong ke masjid, tapi mereka hanya bisa bertumpuk dan melongo di pintu masjid, atau paling banter dapat posisi di emperan.

Mereka hendak bergegas saf depan, lalu merasa serba salah. Sebab dengan nyata kelihatan bahwa masjid masih melompong, tapi sajadah yang tanpa kehadiran pemiliknya itu, telah berbaris rapi memenuhi saf dan posisi strategis.

Sialnya, saat ada jemaah yang beriniaiatif mengisi saf di depan yang masih kosong, meski bertabur sajadah itu, bisa memicu keributan antar jemaah. Pemilik sajadah yang tergurus akan protes karena tempatnya dirampas.

Dalam situasi dilematis sedemikian, pengurus masjid yang harusnya hadir sebagai fasilitator pelaksanaan ibadah, sekaligus eksekutor bagi berbagai persoalan antar jemaah, memilih untuk tak menampakkan diri.

Maka pilihannya adalah, bergerombol di depan pintu masuk, menyaksikan para pelaku pengavelingan posisi di saf depan, melangkah masuk dengan jemawa sambil memamerkan senyum penuh kepalsuan.

Tanpa merasa bersalah dan menyesal, mereka lngsung duduk di saf depan, meski mereka datang terlambat. Sambil sesekali membetulkan letak ‘talilling‘ yang memperlihatkan cuping telinga berhias giwang emas yang besarnya nauzubillah.

Sesekali, mengayunkan kipas di tangan, bukan untuk menghalau gerah di ruang berpendingin, tapi lebih untuk memamerkan setumpuk gelang emas yang gemerincing setiap kali lengannya terayun.

Repotnya memang, sebab fenomena menjamurnya sajadah yang tanpa tuan itu, tak lepas dari andil mereka, para pengurus masjid itu, dalam konspirasi mengaveling posisi. Sebuah keajaiban, bukan?

Bisa dibayangkan, betapa mereka, pengurus masjid itu, yang dipercaya mengurus dan memfasilitasi perkara akhirat dari umat, berlaku curang dan terlibat dalam permufakatan lancung.

Pun tingkah para jemaah yang memasang sajadah tanpa tuan itu, adalah ekspresi dari hasrat kuasa dan egoisme yang belum berhasil dikikis oleh proses ‘pembakaran’ diri di bulan Ramadan.

Saat Ramadan, jiwa kita ditempa untuk mengedepankan ikhlas dalam ibadah dan menomorsatukan pandangan serta penilaian Tuhan semata atas segala ketaatan.

Begitu 1 Syawal tiba, alih-alih bersuka karena keberhasilan menjangkau fitrah, kita malah sibuk dengan pencitraan diri dan ketaatan artifisial seperti salat Idulfitri di saf depan, demi pandangan indah di mata sesama.

Semua itu merepresentasikan betapa perilaku koruptif tak hanya menggerogoti proses penyelenggaraan negara, manajemen pemerintahan, dan kebijakan publik.

Aksi manipulatif ini juga merambah ke ranah yang lebih privat, hubungan pribadi seorang manusia dengan Tuhannya. Manipulasi yang dilakukan sambil main mata dengan pengurus masjid, pihak yang seharusnya menegakkan keadilan bagi para jemaah.

Lalu apa yang tersisa dari sebulan penuh ibadah siam itu ditunaikan? Tak lebih dari ritus lapar dan dahaga tahunan. Lebih dari itu, saum pun hilang tak berjejak, terlibas oleh mesin hasrat untuk pamer ketaatan palsu.

Selamat jalan Ramadan. Izinkan kami melupakanmu, sambil berpura-pura merindu dan terus menanti kedatanganmu di tahun mendatang, untuk sekadar menjadi altar ego mesin hawa nafsu kami yang menggelegak.

17.4.22

Menulislah Dengan Nama Tuhanmu

Standard


[16.04.2022] Adalah Raja Ali Haji bin Raja Ahmad Haji, seorang Pahlawan Nasional Dalam Bidang Bahasa, dalam mukaddimah Kitab Bustanu al-Katibin li’s-Sibyan al-Muta’allimin (Kitab Perkebunan Jurutulis bagi Kanak-kanak yang Hendak Belajar), yang selesai ditulisnya pada (1267/1850), menegaskan superioritas kalam di atas pedang. 

Ulama dan sejarawan abad 19 keturunan Bugis - Melayu kelahiran Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, sekira tahun 1808 percaya betul, betapa segores kata gubahan kalam, bisa mengubah arah torehan pedang. Itu berarti, mampu mendesain bagaimana kebudayaan ditata dan seperti apa peradaban ditubuhkan. 

Bacalah, Raja Ali Haji telah menggubah kalimatnya dengan indah, ‘Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam. Adapun pekerjaan kalam itu, tiada boleh dibuat dengan pedang. Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung’. 

Seakan, pujangga abad 19 ini mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya menguasai kemampuan tata bahasa, dan betapa dahsyatnya kekuatan tulisan. Dalam Kitab Bustanu al-Katibin, Raja Ali Haji mengingatkan bahwa kesadaran literasi harus ditanamkan sejak masa kanak-kanak atau usia belia. 

Patuah Raja Ali Haji ini selaras dengan kalimat-kalimat pertama dari Allah Swt. yang disampaikan kepada kekasihNya, Muhammad saw. saat bersepi - sunyi di gua Hira. Saking dahsyatnya makna kalimat pintas yang harus dibacanya, Al Musthafa hingga menggigil dan tertekan sedemikian rupa. 

Bagi yang muslim, tentu juga sudah sering mendengar, bahkan mendaras larik-larik suci yang bertajuk Surah Al Alaq (96) dimaksud. Meski memang, biasanya titik tekannya diletakkan pada persoalan membaca, belajar, atau ber-iqra. 

Coba perhatikan ayat pertama yang sangat populer itu ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan’ (QS. 96:1). Allah Swt. menginstruksikan kita untuk senantiasa membaca, membaca yang didahului dengan menyebut namaNya yang indah, asma al husna. 

Padahal, ada sebuah aktivitas lain yang dicontohkan Allah Swt. dan sangat layak ditadabburi dalam ayat selanjutnya. Penggalan kalimat yang kadang kita lalai meniliknya dengan lebih dalam. ‘Bacalah, dan Rabmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam’ (QS. 96:3-4). 

Dengan gamblang Allah Swt. memaparkan bahwa Dia yang memerintahkan kita membaca, pada saat yang sama, menyiapkan bahan bacaan, mengajar manusia melalui kalam, melalui pena, melalui alat tulis. Itu berarti bahwa Allah Swt. mewanti-wanti bahwa aktivitas 'allama bi al qalam' tak kalah pentingnya dengan ber-iqra. 

Mengapa Allah menggunakan kalam? Buat apa Allah menulis? Dengan jernih al Quran menerangka, ‘Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’ (QS. 96:5). Ini bermakna bahwa dengan menulis, manusia tercerahkan, mendapatkan petunjuk agar mampu menelisik kebenaran dan menyelisihi kesesatan. 

Maka mengambil peran sebagai penulis adalah berarti berani menempatkan diri menjadi wakil, menjadi khalifah Allah Swt. dalam menggunakan kalam dan memberikan pencerahan kepada sesama manusia, menuntun dari kegelapan pemahaman ke dalam benderang pengertian. 

Dalam Gurindam Dua Belas, puisinya yang usai ditulis pada 23 Rajab 1263 H atau 1847 M dan terbit melalui Tijdschrft Van het Bataviaasch Genootschap No II, Batavia dalam huruf Arab pada tahun 1854, Raja Ali Haji menggubah dua kalimat di awal fatsal 5 dengan begitu indah: Jika hendak mengenal orang berbangsa / Lihat kepada budi dan bahasa //

Seakan Raja Ali Haji berdiri di hadapan kita dan mengamanatkan Kalimat tersebut. Penggal-penggal diksinya seperti bergema di rongga dada, menjadi gerinda yang menajamkan semangat untuk terus menulis, serta mengasah pena batinku untuk senantiasa mengguriskan kata dan merangkai kalimat. 

Selaras dengan itu, guru bangsa Tjokroaminoto dalam berbagai kesempatan, meneriakkan dengan lantang, 'Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator'. Bukankah itu merupakan pilihan yang demikian mulia dan terhormat? Maka berbanggalah mereka yang merengkuh amanah ini dengan penuh kegembiraan.

26.2.22

Perempuan-Perempuan Tangguh Di Cerita-Cerita Anggun

Standard


[25.02.2022] Saat menimang buah karya Anggun Safitri ini kali pertama, lalu sekilas melihat judul yang dipilih, ‘Dipeluk Angin’, terlintas gambaran kisah mendayu-dayu, penuh drama cengeng, serta cerita yang akan menguras air mata pembaca serupa menonton drama Korea atau film-film Hollywood.

Apalagi ditambah blurb yang mengutip, ‘Cinta kadang datang di waktu yang tidak tepat. Kadang datang pada orang yang salah‘, makin sempurnalah gambaran itu. Bahwa buku ini akan mengumbar romantisme berbalut religiusitas, atau gombalan maut remaja yang lagi bucin.

Tapi setelah membuka lembaran-lembaran isi, dan membaca beragam lakon yang tersaji, gambaran itu buyar berkeping-keping, kenyataan begitu berbeda dari ekspektasi. Benarlah kata pemeo, ‘Don’t Judge A Book By Its Cover‘. Ya, jangan langsung menghakimi kualitas sebuah buku dengan hanya melihat sampulnya.

Gambar siluet wanita dengan lanskap pantai yang temaram, kepakan sayap camar di langit yang berawan, lambaian dedaunan yang disamarkan, dengan dominasi warna kelabu, tak selalu menandakan bahwa situasi benar-benar muram. Di sana justru tersimpan misteri terdalam gejolak jiwa yang kadang tak tertebak.

Dalam cerita ‘Dipeluk Angin’ yang lalu dipilih menjadi tajuk kumpulan ini, Anggun berhasil menghadirkan seorang perempuan tangguh dan tak ragu mengambil keputusan terkait dengan akhir hidupnya. Ia akhirnya memilih membiarkan tubuhnya dipeluk angin dan raganya didekap arus demi merengkuh kesendirian dan kesepian.

Perempuan itu seperti takluk dalam upaya mempertahankan rumahtangganya yang dimulai sejak dini, mengakhiri kebersamaan dengan sang suami, tapi enggan menerima uluran tangan lelaki lain yang menjanjikan cinta nan meruah. Sebuah liku hidup yang tak datar.

Sebagai penulis cum aktivis perempuan, Anggun berhasil mengungkap secara gamblang sudut pandang perempuan merdeka dalam tokoh-tokohnya. Tengoklah pemberontakan Alia (Alia dan Bayangan yang Mengikutinya) yang lebih memilih kebebasan di sekolah daripada terkekang di rumah, meski akhirnya di sekolah pula yang merenggut itu darinya.

Atau perlawanan Lisa (Bebas) pada Rian -suaminya, bapak dari kedua anaknya, digambarkan dengan gamblang, bahkan begitu berani menggenggam pisau dapur sebagai persiapan bila suaminya mencegah pilihannya untuk meninggalkan rumah.

Longok pula keberanian Karin (Jam Tangan Merah Muda) merengkuh getirnya hidup dengan mencintai dan menerima cinta dari lelaki beristri dan punya anak. Mengenai hal ini, Karin berucap lirih, “Ia tetaplah milik istri dan anak-anaknya yang setia menunggunya pulang setiap senja.”

Serta ketegasan Rina (Pernikahan yang Batal) menganulir pernikahannya dengan seorang lelaki yang mencarinya kemana-mana, demi menunjukkan keberpihakan pada kakeknya, seorang lelaki tua yang diterungku berbilang tahun tanpa pernah tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Demikian pula dengan tokoh perempuan lain yang dikisahkan Anggun dalam ke delapan belas cerita dalam kumpulan ini, didominasi oleh karakter perempuan yang berani bersikap cadas, keluar dari pakem gambaran perempuan baik-baik, penurut, dan mungkin salehah.

Sayang, berbilang cerita yang dibabar Anggun akan membuat pembaca yang begitu mencintai kehidupan yang harmonis, keluarga yang bahagia, jalan hidup yang happy ending, akan kecewa dan meradang. Kehidupan tokoh-tokohnya selalu diposisikan pada titik nadir kegelisahan dan derita yang tak biasa.

Alia yang begitu menyukai sekolah, malah dilemparkan ke peristiwa silam yang hendak dilupakannya, kisah yang mengorek trauma di jiwa mudanya. Trauma yang lalu membuatnya linglung dan bahkan merenggut nafas terakhirnya.

Lisa memilih mengakhiri rumah tangga yang telah memberinya dua orang anak, Karin yang bersetia hanya menjadi perempuan pilihan lain daripada merusak rumah tangga lelakinya, serta Rina yang memilih menolak lelaki yang begitu mendambakannya menjadi istri.

Alih-alih menyenangkan hati pembaca cibi-cibi, Anggun memilih untuk mewartakan, melalui cerita-cerita gubahannya, kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi perempuan dalam hidup. Kejadian yang selalu berusaha dihindari, bahkan dalam kisah sekalipun.

Anggun memberi mulut untuk bersuara pada perempuan yang selama ini dibisukan oleh peradaban lelaki nan ‘baik-baik saja’. Anggun menerabas jalan bagi keluarnya kegelisahan, meski ia tak memberi pilihan jalan keluar, semua dibiarkan mengalir entah menuju ke mana.

Itu menunjukkan bahwa penulis kelahiran Banggai 4 Mei 1992 ini, tak berkehendak mendikte pembacanya, bahkan terlihat enggan mengarahkan tokoh-tokoh rekaannya. Pembebasan bagi perempuan yang diberikan oleh Anggun pada tokoh-tokohnya, begitu total.

Atau bisa juga, tokoh-tokoh itu merupakan altar ego seorang Anggun. Seorang perempuan yang berhasrat tinggi pada kesendirian dan kesepian. Seperti narasi ini, “Semua berakhir. Aku kembali sendiri dan sepi“. Apa benar demikian? Hanya Anggun yang bisa menjawabnya, dan tentu saja, kita para pembaca bebas mempertanyakannya.

Judul: Dipeluk Angin | Penulis: Anggun Safitri | Penerbit: CV. Cleopatra Mandiri | Cetakan: Pertama, Desember 2020 | Jumlah Halaman: 179 | ISBN : 9-786236-016374

25.2.22

Latopajoko dan Beragam Kisah Dari Badaruddin Amir

Standard


[24.02.2022] Di blantika kepenulisan tanah air, terutama di Sulawesi Selatan, Badaruddin Amir bukan nama baru. Esai, puisi dan cerpen-cerpennya, mudah ditemui di berbagai media, baik skala lokal, maupun skop nasional. Ketelatenannya melahirkan karya dengan latar belakang daerah di Sulsel, membuat karya-karyanya gampang diterima oleh pembaca.

Demikian halnya dengan Kumpulan Cerita bertajuk Latopajoko & Anjing Kasmaran yang ditubuhkannya pada Februari 2007 silam. Latopajoko dan enam belas judul cerita yang membersamainya seakan mengajak kita berkelana pada kawasan yang begitu tepat merepresentasikan suasana masyarakat dan alam yang melingkupi manusia Bugis.

Latopajoko, judul salah satu cerita yang lalu dipilih mewakili kumpulan ini, begitu kuat membetot ingatan masa silam akan kisah-kisah heroisme para pemberani (towarani). Tapi di saat yang sama, Badaruddin berhasil mentransformasi kekuatan lampau sebagai pijakan bagi generasi baru dalam menaja masa depannya.

Latopajoko, yang bisa dibaca La Topajoko (Sang Manusia Penakluk) atau Latoq Pajoko (Kakek Penakluk) adalah sosok yang memiliki kemampuan untuk menundukkan (pacoko) musuhnya. Dengan bermodalkan kesaktian dan ilmu panimboloq, semacam pengetahuan mistis yang berimplikasi pada kebalnya seseorang dari senjata tajam membuat Latopajoko meraih reputasi sebagai towarani.

Kedigdayaan Latopajoko, meskipun telah menjadi pengawal raja, tak pelak mengundang kekhawatiran dari sang raja bahwa pengawalnya yang keturunan pengembara itu akan berbalik melawannya. Upaya raja untuk menjebaknya dengan meminta Latopajoko menghadapi Lataddangpali, perompak yang juga sangat sakti, tak menyurutkan semangat juang untuk mengabdi pada rajanya.

Melalui Latopajoko, Badaruddin mengajari kita makna kesetiaan bahwa, meski hingga polo papa – polo panni (remuk kepak patahlah sayap), kesetiaan tetap di atas segalanya, bahkan hingga harus menghadapi La Malakul Maut (Malaikat Maut). Selain itu, Latopajoko juga menjadi pengingat bahwa kesusksesan bukanlah sesuatu yang diraih secara instan, melainkan harus diperjuangkan dengan pengorbanan sepenuh hati.

Selain soal kepahlawanan, lewat cerita-ceritanya yang mengalir, Badaruddin juga mengajarkan romantisme sederhana namun tak biasa. Daraslah ‘Tahi Lalat Suster Ezra’, atau ‘Pipit Kecil Bermata Sayu’, atau ‘Pinrakati’. Di sana ada alunan percintaan dengan getaran lembut yang hampir tak terasa, tapi sulit untuk dilupakan. Kesemua itu menunjukkan betapa Badaruddin adalah seorang pencerita yang mumpuni.

Tak salah bila Joni Ariadinata dalam pengantarnya atas buku ini, memuji cerpen-cerpen Badaruddin. Joni menera bahwa kehadiran kumpulan yang berisi cerpen dengan gaya tutur klasik, dengan kesederhanaan bahasa ungkap, serta mengutamakan kekuatan tema dan kerapian alur yang terang, menjadi tanda bahwa tampaknya cerpen sedemikian mulai kembali mendapatkan tempat.

Menariknya pula, Badaruddin tak berupaya memuaskan pembaca dengan selalu memenangkan sisi baik dalam ceritanya, bahkan sebaliknya, ia berani berdiri berseberangan dengan keberpihakan mayoritas pembaca. Tengoklah nasib tokoh Dia dalam ‘Dia Berenang Terus’ yang harus kalah oleh konspirasi tokoh Dul Hamid yang merebut istrinya.

Atau tokoh Aku dalam ‘Pipit Kecil Bermata Sayu’ yang memilih untuk tidak melanjutkan percintaan masa kecilnya dengan alasan yang menggemaskan. Badaruddin menulis begini, “Pipit kecil, …… Aku takut bertemu denganmu. Aku takut kenangan percintaan masa kecil kita yang bening, sebening air kali itu, akan ternoda oleh kedewasaan kita yang mendebarkan!

Badaruddin juga melengkapi kumpulan ini dengan kisah yang berbau mistik nan mengguncang seperti pengalaman tokoh ‘saya’ dalam ‘Perempuan di Atas Bus’, atau tokoh ‘lelaki tua’ dalam ‘Di Bawah Cahaya Bulan’. Kedua kisah ini disatukan oleh penggambaran latar belakang sungai dengan nuansa yang temaram dan menimbulkan luka traumatis.

Akhirnya, kesemua itu menjadi kelindan dan jejaring makna yang melukiskan wajah kepengarangan Badaruddin, seorang penulis prolifik yang menjalani keseharian sebagai seorang pendidik.

Judul: Latopajoko & Anjing Kasmaran | Penulis: Badaruddin Amir | Penerbit: AKAR Indonesia | Cetakan: Pertama, Februari 2007 | Jumlah Halaman: xii + 258| ISBN : 979-998382-7