31.7.21

Aléfu’ Tettong Tungke’

Standard



#1

Aléfu’ bertahta di segenap petala

……….

Aléfu’ mabbarisi’ ri ase’ka’

……….Aku alif tegak sempurna

……….Menjulang langit, menghunjam bumi

……….Tak goyah walau badai menderu

……….

Ha maddafengko

……….Dirimu ha tersungkur rebah

……….Tiada daya bangkit kembali

……….Segenap diri tertunduk kelu

……….

Narekko maélo’ko kira-kira maja’ka’

……….Bila hasrat tindak cendala

……….Berjelaga di sari diri

……….Seluruh hayat terselubung nafsu

……….

#2

Aléfu’ menawar segala bala

……….

A – Alani

……….:perintah

I – Iyyaé

……….:pinta

U – Uwérékko

……….:amanah

……….

Mantra pamungkas mengangkasa

Mengurapi jiwa-jiwa gelisah

Kala masalah kian menggila

Dan harapan tinggal cerita

……….

#3

Aléfu’ menjelma segala ada

……….

Aléfu’ka’ mu ba

……….

Sepasang kekasih yang saling meragu

Bertukar kerling nan sendu

Aliflah aku, engkaulah ba

Mengimpaskan rindu dalam mantra



Tulisan ini pernah tayang di sini

30.7.21

Princesa Dona Elena Vesiva

Standard


[29.07.2021] Medio 1546, kala mentari sudah naik sepenggalah, kapal perang Portugis yang sandar di dermaga Machoquique mendadak dikepung pasukan Kerajaan Suppa, dua kelompok pasukan yang merupakan sekutu ini tiba-tiba harus berhadap-hadapan. Seorang dengan jubah santo, Pastor Vincente Viegas, yang sehari-hari melayani umat Katolik jemaat gereja Santo Rafael di Pangkajene, berjalan menuruni tangga kapal, berdiri di depan pimpinan pasukan Kerajaan Suppa.

 

Beberapa saat sebelumnya, saat pagi berbasuh cahaya mentari. Tanpa ada yang menyadari, seseorang telah menyelinap masuk ke ruang nakhoda.

 

“Senhor…” Suara Dona Elena terdengar resah.

 

“Aga kareba? Apa yang terjadi, kenapa Princesa Vesiva ada di sini di pagi buta?” Jawab Eredia, kaget, dia menuntun Dona Elena duduk di bangku, dia sendiri memilih duduk di depannya.

 

“Tire-me daqui, bawa aku pergi.” Kembali Dona Elena merajuk.

 

“Aku tak mungkin membawamu begitu saja, itu bukan perbuatan terhormat.” Suasana hening, hanya suara nafas Dona Elena yang terdengar.

 

“Tapi tuan mencintaiku bukan?” Mata Dona Elena menatap Eredia penuh harap.

 

“Itu tak perlu Princesa ragukan. Tapi bukan berarti kita bisa pergi begitu saja.” Eredia mengeleng-gelengkan kepala.

 

“Aku lelah tuan, ayahku tak bakal menyetujui hubungan kita.” Kedua telapak tangan Dona Elena ditutupkan ke muka.

 

“Kita masih punya waktu untuk mendapatkan restunya. Kapal ini masih punya satu purnama, sebelum angkat sauh.” Eredia meyakinkan.

 

“Nao! Tidak! Ayahku tak akan pernah memberi itu. Nao vai.” Dona Elena menarik nafas panjang.

 

“Kenapa Princesa berkesimpulan begitu?” Muka lelaki bernama lengkap Joao de Eredia Aquaviva, menegang.

 

“Aku akan dinikahkan dengan sepupuku, Arung Bacukiki.” Dona Elena membuang muka.

 

“Kamu serius, Princesa? Dengan Arung Machoquique?” Mata Eredia membelalak.

 

“Ya. Semalam ayahku menyampaikan keputusannya. Itulah mengapa aku berada di sini sekarang. Aku lebih memilihmu!” Dona Elena menggenggam erat tangan Eredia. Lelaki yang lahir di semenanjung barat daya benua Eropa tersebut hanya termangu.

 

Hening menyelimuti, suara kecipak gelombang yang menampar-nampar lambung kapal, begitu nyaring. Tapi tak lama. Di kejauhan, terdengar suara-suara teriakan yang mendengung bak kawanan lebah. Eredia tersentak, Dona Elena tak kalah kaget. Mereka mengerti, itu suara pasukan telah menghunus senjata dan bersiap menghadapi musuh. Pasukan yang bergerak menuju dermaga, tempat di mana kapal yang mereka tumpangi, sementara berlabuh.

 

Seorang prajurit muncul dari balik pintu, wajahnya pias. Sambil membetulkan posisi topinya, ia berseru.

 

“Senhor! Bagaimana ini?”

 

“Magai? Ada apa?” Meski sudah bisa menebak, Eredia mencari penguatan dari jawaban bawahannya.

 

“Pasukan Don Louis, mencoba merangsek naik ke sini. Tuan de Pereira sementara bernegosiasi untuk mengulur waktu.” Jawab si prajurit. Eredia menepuk ringan kepalanya.

 

Di saat genting itulah, Pastor Viegas yang baru saja memungkaskan rangkaian ibadat pagi bersama penumpang kapal, memutuskan dengan pintas.

 

“Joao de Eredia Aquaviva, selaku kuasa penuh Don Joao o Piedoso, Rei de Portugal, e dos Algarves di tanah Celebes, kuperintahkan engkau untuk segera berlayar ke Malaka, sekarang juga!” Suara Pastor Viegas terdengar lembut, namun tegas.

 

“Tapi…” Mata Eredia membelalak.

 

“Tak ada kata tetapi, urusan dengan Don Luis penguasa Palacio La Malaca, nanti saya yang bereskan. Bawa Princesa Vesiva ke Fortaleza de Malaca!” Pastor Viegas kembali mengulang perintahnya sebelum akhirnya berjalan menuruni tangga kapal, menemui pasukan Kerajaan Suppa.

 

*     *      *

 

Awal tahun 1544, dermaga Soreang, mendadak ramai. Sebuah kerakah berbendera Portugis merapat. Kapal layar bertiang tiga itu terlihat sarat muatan.

 

“Bem-vinda a ponta dos celebres!” Teriak seorang lelaki paruh baya dari anjungan kerakah yang dia tumpangi sejak dari Malaka. Lelaki itu, Antonio de Payva namanya.

 

“Selamat datang di tanjung orang-orang tenar!” Kembali de Payva berterian lantang, kedua tangan direntang, menyisakan ujung jubahnya yang kaku akibat terpaan angin laut yang asin, menggantung di sisi tubuhnya yang tambun.

 

Lelaki itu, pimpinan pedagang asal Lusitania, memimpin rombongannya yang baru saja pulang dari ekspedisi mencari kayu cendana di daerah Celebes tengah. Tapi atas perintah Afonso de Albuquerque, penguasa Fortaleza de Malaca di Semenanjung Malaya, de Payva diminta untuk mampir ke jazirah selatan, kawasan yang terkenal sebagai negeri para bajak laut penguasa lautan timur Nusantara.

 

“Tugas kita adalah membangun persahabatan dengan mereka, agar pelayaran kita ke Maluku tak mengalami gangguan.” De Payva kembali mengingatkan anggota rombongannya untuk tidak membuat masalah. Maka setelah kerakah sandar dengan sempurna, rombongan pedagang Portugis itu turun dengan membawa berbagai macam bungkusan sebagai hadiah bagi penguasa Suppa, negara di sebelah utara Soreang.

 

*     *      *

 

Setelah berbilang bulan melakukan pendekatan, akhirnya tugas de Payva membuatkan hasil. Raja Suppa, La Makkarawi yang sebelumnya menganut kepercayaan leluhur Bugis, bersedia bersalin iman menjadi Katolik. Tapi berhubung belum ada pastor yang ikut dalam rombongan, de Payva mengambil peran sebagai juru baptis. Ruang depan Langkanae La Malaka, istana berbahan utama kayu-kayu pilihan dari Malaka, menjadi saksi ketika La Makkarawi melafazkan ikrar perihal keesaan Tritunggal Tuhan, sementara de Payva memercik-mercikkan air ke atas kepalanya.

 

“Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.”

 

Tak tanggung-tanggung, selain dirinya, ikut pula dibaptis istri dan anak-anaknya.

 

Mata We Siwa, salah seorang putri La Makkarawi yang ikut dibaptis, berbinar indah saat de Payva menyematkan Dona Elena Vesiva menjadi namanya yang baru, nama yang diurapi dengan nama agung Tuhan yang Esa, O deus todo-poderoso. Anak berusia lima belas tahun itu merasakan suka cita yang meruah dalam bening jiwanya. Mata mungil Dona Elena melirik ke sisi luar Langkanae, di sana berdiri sesosok perwira Portugis dengan pakaian militer lengkap yang gagah, menjadi saksi peristiwa sakral tersebut. Lelaki muda yang telah mengawal perjalanan de Payva sejak pelayaran mereka beberapa tahun lampau dari ujung barat semenanjung Iberia hingga ke Celebes kini.

 

Sementara itu, La Makkarawi yang dianugerahi nama baptis Don Luis, berjalan ke arah jendela, menatap jauh ke dermaga Suppa, memandang puncak tiang layar Soena Gading, perahu kebanggaannya. Mulutnya bergumam lirih, “Nós somos católicos agora“, sambil melirik de Payva yang ikut berdiri di sisi kirinya, “Kini, kami Katolik.” Senyum mengembang di bibirnya.

 

*     *     *

 

Februari 1546, sisa-sisa musim hujan masih terasa, gerimis menyambut pagi di istana Raja Suppa. Setelah melepas sepatu boot-nya, Eredia menapaki tangga La Malaka. Hari ini dia memantapkan hati menemui Don Luis untuk melamar Dona Elena. Melihat kedatangan perwira Portugis tersebut, La Makkarawi menyilakan Eredia duduk di atas tikar, sementara dia sendiri, tetap di atas cadeira.

 

“Como você está, aga kareba, bagaimana kabar Tuan Perwira?” La Makkarawi menyapa tamunya.

 

“Madeceng mua Puang, kabar baik paduka, semoga Senhor Don Luis demikian juga adanya.” Eredia membungkuk hormat sebelum akhirnya duduk bersila.

 

“Oh ya, ada apa gerangan yang membawa Tuan Perwira hadir di istana sepagi ini?” La Makkarawi menyelidik.

 

“Me perdoe senhor, terdiam sejenak lalu melanjutkan, maafkan aku tuan….” Merapikan duduknya.

 

“O que é isso, tak apa. Bertamu sepagi ini di istanaku bukanlah hal terlarang.”

 

“Aku…. Aku ingin melamar puteri tuan.”

 

“Puteri yang mana? Tentu Tuan Perwira tahu belaka bila aku punya beberapa Puteri.”

 

“Princesa Dona Elena Vesiva, Senhor.”

 

“Oh, We Siwa?”

 

“Iya paduka. Pelo amor de Deus no céu, atas nama Bapa di surga, aku melamarnya.”

 

“Engkau terlambat Tuan Perwira…”

 

“Maksud Senhor Don Luis?”

 

“We Siwa telah dijodohkan dengan sepupunya sejak ia lahir.”

 

“Siapa gerangan dia, Senhor?”

 

“Arung Bacukiki.”

 

“Rei de Machoquique?”

 

“Ya, dan tentu Tuan Perwira tahu, perjodohan ini tak mungkin kami batalkan!” Mendengar perkataan La Makkarawi yang tegas, Eredia tertunduk lesu, jubahnya ikut menjadi lusuh. Tak ada yang bersuara, La Makkarawi juga tak tahu harus mengatakan apa lagi.

 

“Me perdoe…” Ujar Raja Suppa, memecah kesunyian. Tak lama, Eredia pamit, dan undur diri dengan muka ditekuk.

 

Setiba di depan tangga, Eredia mendengar seseorang memanggilnya dengan pelan dari kolong istana.

 

“Senhor, bagaimana?” Wajah Dona Elena menuntut jawab.

 

“Sepertinya kita masih harus menunggu hingga takdir berpihak ke kita, Princesa Vesiva.” Eredia berusaha tersenyum. Mendengar itu, Dona Elena tertunduk kelu.

 

“Aku pamit dulu. Adeus Princesa.”

 

Dona Elena menatap punggung lelaki yang selama ini menjadi penghias mimpi malamnya. Saat Eredia menghilang di tikungan jalan, Dona Elena bergumam lirih, “Eu amo voce…”, buliran bening bergulir di kedua bilah pipinya.

 

*     *     *

 

Hari yang panas, membara sejak kemarin. Amarah yang merembet dari Bacukiki pagi ini menjangkau Pangkajene. Gereja Santo Rafael, tempat Pastor Vincente Viegas melayani jemaat, hangus terbakar. Karena gagal mencegah kepergian putrinya, We Siwa bersama Eredia yang menumpang kapal Portugis, La Makkarawi tak menyisakan jejak Portugis di Ajatappareng.

 

Catatan: Ilustrasi dalam cerpen ini adalah wajah Manuel Godinho de Eredia, seorang kartograf terkenal. Manuel adalah buah pernikahan dari Joao de Eredia Aquaviva dengan Dona Elena Vesiva.

 

Tulisan ini pernah tayang di sini

26.7.21

Renungan di Tribun Selatan Lapangan Makkatang Daeng Sibali

Standard


[25.07.2021] Pagi menjangkau pukul 06.57 wita saat kakiku mengijak pelataran alun-alun kebanggaan masyarakat Takalar, Lapangan Makkatang Daeng Sibali. Mentari sedari tadi sudah mencumbu buliran embun di ujung rerumputan sebagian besar area lapangan, sebagian lagi masih terlindung bayangan atap tribun utama si sisi timur.

 

Jogging track sepanjang 480 meter dengan luas sekira 3 meter yang mengitari lapangan, telah sesak dengan warga yang datang, ada yang berjalan ringan, ada yang berlari, ada juga yang sekadar mencari spot berswafoto, bahkan ada yang menyempatkan diri bergoyang mengikuti musik dari gawai sambil merekam diri untuk di unggah ke tik tok.

 

Ada ratusan warga yang berputar, selain di jogging track, mereka yang lebih serius berolahraga memilih berlari atau bersepeda melintas di jalan raya yang mengitari area alun-alun. Sementara aku, memilih berjalan cepat di dalam area lapangan sepak bola, tanpa alas kaki, untuk merasai sensasi butir-butir embun yang perlahan manguap tersaput sinar mentari.

 

Selain untuk memanjakan kaki, pula untuk memuaskan paru-paru dengan asupan oksigen yang bisa kuhirup dalam-dalam tanpa halangan masker. Memang tak ada yang memilih berjalan atau berlari di lapangan, mungkin takut kotor. Aku bebas melepas maker karena jarak putaranku dengan jogging track yang sesak itu, sekira 10 meter lebih. Sebuah anugrah pagi yang luar biasa.

 

Dengan bantuan aplikasi pedometer di gawai, tercatat aku berjalan selama 53 menit, memungkas 6455 langkah, melipat 4,32 kilometer, dan membakar kalori sebesar 196,9 kcal. Lumayan, membuat badan mandi keringat dan cahaya pagi yang hangat. Jumlah capaian yang menjadi rata-rata capaian harianku. Baik berjalan langsung, atau memanfaatkan fasilitas threadmill apabila hujan menyapa pagi.

 

Setelah merasa cukup, aku memilih melipir ke tribun selatan, melakukan peregangan. Aku memilih sebelah selatan sebab di sini terpapar sinar, sementara tribun di sisi Utara dan tribun utama di sisi timur, terlindung. Lapangan ini tak memiliki tribun di sebelah barat, entah apa alasannya. Mungkin karena di sisi barat selalu digunakan untuk menjadi tempat imam dan khatib bila salat Ied digelar di lapangan ini saban tahun.

 

Sambil meregangkan otot, jemariku lincah berselancar di papan ketik gawai lawasku, mencatatkan serpih refleksi yang melintas bak kilat di ingatanku. Semua kulakukan karena khawatir lintasan pengetahuan serupa cahaya penerang bagi gelapnya kebodohan itu, menguap entah kemana, meninggalkanku tanpa jejak dalam belukar kepandiran. Bukankah menulis juga adalah sunnah yang agung?

 

Syahdan rasul mulia, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya

 

Tak berhenti di situ, beliau bahkan menunjuk salah seorang sahabat menjadi juru tulisnya. Muhammad memerintah Abdullah bin ‘Amru

اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran.

Aku mengamati ratusan warga yang tawaf mengelilingi lapangan Makkatang pagi ini, aku melihat hasrat eksistensial yang melandasi mereka bergerak. Bila Rene Descartes pernah bersabda bahwa “Aku Ada Karena Aku Berpikir (Cogito Ergo Sum)”, Emanuel Levinas memfatwakan “Aku Ada Karena Aku Bertanggungjawab (Respondeo Ergo Sum)”, maka mereka ini digerakkan prinsip “Aku Ada Karena Aku Eksis di Lapangan”.

Faktanya, lebih banyak yang hanya datang untuk berjumpa dengan kawan, bersua dengan sahabat, atau hanya demi kebutuhan live di laman facebook, intagram, bahkan tik tok. Emak-emak paruh baya, sibuk mematut-matut diri di tribun utara untuk menemukan pose yang pas di depan kamera gawai yang dibidik oleh sekondannya. Dengarlah percakapannya:

 

“Tenapa nusimpangngi? (Belum kamu simpan?)” Tanya yang sibuk bergaya.

“Belumpi, ulangi dulu, yang tadi silau,” jawab yang memegang gawai.

Belum lagi remaja tanggung yang memanfaatkan beberapa kursi taman di sisi barat untuk melampiaskan ekspresi cinta monyetnya, mereka ‘menyet’ dengan malu malu. Simaklah:

“Buat apa kita ajakka’ bertemu di sini?” Tanya si gadis yang duduk di kursi taman, tertunduk malu, jemarinya mengaduk-aduk rerumputan yang berembun.

“Tidakji, agar kita bisa olah raga sama-sama,” jawab si jejaka tak kalah grogi, pura-pura berjalan mondar mandir meregangkan badan di depan kursi taman.

“Jadi, kita mau lari-lari, jalan beriringan, atau mau traktirka’ minum jus?” Si gadis makin tersipu. Eeaaaa….

Yang betul-betul serius berolahraga hanya mereka yang sudah bangkotan, bapak-bapak sekira umur 50an ke atas. Lalu bila ditilik dengan pola gerakan yang mereka praktikkan, bisa dipastikan, mereka-mereka yang telah mendapat saran dari dokter untuk lebih banyak bergerak untuk mengantisipasi intaian penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, atau gejala stroke.

Lihatlah, betapa kita semua yang hadir, memanfaatkan momentum pagi ini untuk menjaga eksistensi dan keberadaan kita sebagai manusia, sedangkal apapun modus eksistensial yang melandasi. Bahkan, ada juga beberapa pejabat publik yang nampak hadir, mungkin menjalani rutinitas pagi sebagai sesuatu yang telah digariskan oleh protokoler.

Dalam tilikan Martin Heidegger, polah tingkah sebagian besar warga yang berpendar di alun-alun pagi ini tak lebih hanya berpijak pada modus ‘adaan’, belum menjangkau ke dasar eksistensial ‘Ada’. Eksistensi yang menyeruak tak lebih dari sekadar memenuhi kewajiban rutin.

Bahwa remaja tanggung, harus bisa ‘menyet’ sebagai bentuk pembuktian eksistensial di hadapan generasinya. Emak-emak tanggung menunjukkan bahwa mereka juga rajin jogging pada group WA arisan kompleksnya, pun bapak-bapak bangkotan menunjukkan bahwa mereka bisa bertahan di tengah kondisi kesehatan yang rentan.

 

Maka aku pun bekerja dalam logika yang sama, aku menuliskan apa yang kugiatkan pagi ini sebagai bentuk pembuktian eksistensial, bahwa aku ada. Tapi yang mungkin berbeda adalah, bahwa aku membuktikan eksistensi, menunjukkan kehadiranku, dengan pembuktian yang kukuh, buhul yang kuat, bahkan akan mengabadi: menulis. Bukankah Pramoedya Ananta Toer menegaskan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian?

Pun, Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

 

Maka tulisan ini kupahatkan di dinding keabadian, sebagai pembuktian bahwa aku pernah Ada, bukan sekadar mengada. Dalam perspektif filosofi Bugis, aku mencoba menjadi Tau, bukan sekadar bagian dari kerumunan rupa tau, bukan pula hanya tau-tau dan pajo-pajo.


Tulisan ini pernah tayang di sini

20.7.21

Renungan Di Depan Pasar Pattirobajo

Standard


Adil ialah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar
. –Buya Hamka

Pagi, butiran embun di ujung dedaunan mulai sembunyi dari sapaan mentari pagi yang mengerling hangat. Awal hari yang riuh, Pasar Pattirobajo ramai pengunjung. Ini jadwal terakhir sebelum hari raya Idul Adha bagi warga pasar yang terletak di pusat kota Kecamatan SibuluE, wilayah yang berparak sekira 15 kilometer dari Kota Watampone.


Di SibuluE, ada tiga pasar: Pasar Boarengnge (Desa Boarengnge), Pasar Pattirobajo (Desa Pattirobajo) dan Pasar Benteng (Desa Pakkasalo). Pasar Boarengnge tak pernah kukunjungi secara khusus, hanya melintas di depannya beberapa kali. Tapi Pasar Pattirobajo dan Pasar Benteng, saban hari aku datangi. Kedua pasar ini lumayan berdekatan, jaraknya hanya 3 kilometer, mungkin. Keduanya juga berbagi hari pasar dalam sepekan. Pasar Pattirobajo digelar tiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Ahad. Sementara Pasar Benteng terbuka pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu


Hampir semua yang menjual dan membuka lapak di kedua pasar itu, orang yang sama. Harga jualan relatif sama, dengan sumber jualan yang juga serupa. Tapi jelang lebaran, pengunjung pasar hari ini (19 Juli 2021), lumayan membludak. Padahal mereka sudah mendatangi Pasar Benteng kemarin (18 Juli 2021), dan masih bisa mampir ke Pasar Benteng esok hari (20 Juli 2021). Entah apa yang mereka beli.


Namun bukan soal pasar dan segala soalan terkait jual beli yang akan kuudar dalam tulisan ini, melainkan perihal kesadaran hukum dan rasa keadilan masyarakat yang menyeruak menggelitik pikirku pagi ini, pagi saat aku bertugas mengantar bini dan kedua adik perempuanku berbelanja di Pasar Pattirobajo. Di sini, aku mengalami kejadian yang mengusik kesadaran hukumku, pun mengulik rasa keadilanku.


Sebelum kuwartakan lebih jauh peristiwa berkesan itu, perlu kupaparkan soal apa yang kumaksud dengan kesadaran hukum serta rasa keadilan publik yang kumaksud. Ini bukan bertujuan memberi penyuluhan hukum, toh saya bukan ahlinya. Ini tak lain dan tak bukan, semata untuk membangun kesamaan persepsi perihal apa yang kumaksud dalam tulisan ini.


Secara sederhana, kesadaran hukum dipahami sebagai bangunan kesadaran yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap berbagai aturan hukum yang berlaku. Kesadaran hukumlah yang menggerakkan seorang pribadi atau masyarakat untuk taat pada aturan yang berlaku dalam upayanya mewujudkan keamanan, ketertiban, dan keadilan.


Sementara rasa keadilan adalah sebentuk perasaan yang muncul sebagai buah dari implementasi aturan hukum yang selaras dan seimbang oleh semua pihak. Rasa keadilan publik akan terusik apabila dalam menjalankan aturan, ada sesuatu yang membuat publik merasa bahwa sebuah tindakan bukan pada tempatnya.


Pagi ini, saat tiba di depan Pasar Pattirobajo, kesulitan muncul saat akan memarkir kendaraan. Sungguh, parkiran sesak, dan sepanjang jalan di depan pasar juga padat. Setelah menyusuri jalan yang membentang ke Utara, ada celah untuk parkir di depan pintu pasar sebelah kanan. Aku memarkir kendaraan di sisi barat jalan menghadap ke utara, tepat di antara mobil pick up putih dan SUV merah marun.


Tak lama, seorang berseragam polisi menghampiri dan menyapa, 

“Bapak yang menyupiri mobil ini?” Tanya petugas sambil menurunkan maskernya ke dagu.

“Iya, kenapa, Pak?” Tanya balik sambil memasang masker.

“Jangan parkir di sini, Pak. Akan bikin macet, silakan parkir searah di sisi timur jalan.” Terangnya.

“Oh, iya. Terima kasih.” Jawabku pintas.


Tanpa basa-basi aku menjalankan kendaraan, dan memindahkan posisi parkir ke sisi timur jalan, setelah sebelumnya memutar arah mobil menjadi menghadap selatan. Risikonya, aku mendapatkan lokasi parkir yang lumayan jauh dari pintu pasar. Maka kulayangkan pesan teks ke adik agar menelepon saja bila sudah hendak pulang, agar aku tinggal menjemputnya di pintu pasar.


Lumayan lama aku menanti di kendaraan. Dalam menunggu, kusaksikan mobil yang berada di depan dan di belakangku tadi, masih tetap berada di posisinya, parkir di sisi barat jalan. Sementara polisinya sudah raib entah ke mana. Tak lama, lokasi parkir yang kutinggalkan, sudah terisi oleh kendaraan lain, cukup lama, baru petugas polisinya datang dan meminta kendaraan itu dipindahkan oleh si empunya.


Dari kejadian di depan pasar itu, aku lalu memahami bahwa tidak semua warga memiliki kesadaran hukum yang sama. Buktinya, tak semua mereka yang parkir di sisi barat jalan, lalu memindahkan kendaraanya begitu mendapat teguran dari petugas kepolisian. Padahal memang, bila di sisi barat jalan ditempati menjadi parkiran sementara, kemacetan menjadi lumayan panjang. Selayaknya, teguran sopan dari polisi dan pengamatannatas realitas lalu lintas bisa menjadi pemicu agar kita segera memindahkan kendaraan.


Kesadaran hukum juga ditentukan oleh beberapa hal, seperti konsistensi aparat menegakkan aturan, serta tingkat pemahaman masyarakat atas aturan sebagai buah dari sosialisasi aturan yang intens. Seperti yang kualami, aku memarkir di sisi barat jalan, karena tak mengetahui ada larangan tentang itu. Tapi aku langsung pindah begitu mendapatkan informasi dari petugas.


Tapi selain itu, kesadaran hukum juga sangat dipengaruhi oleh rasa keadilan yang terpenuhi. Dalam kasus yang kualami, ingin rasanya kembali memarkir kendaraan di sisi barat jalan sebagai bentuk protes terhadap aparat kepolisian yang bertugas. Mengapa? Sebab aku merasa ada perlakuan tak adil di sini, ada sebentuk pembiaran terhadap para pelanggar aturan. Buktinya, tak ada upaya penegakan aturan secara tegas terhadap mereka yang membandel dan enggan pindah, belum lagi petugas polisi yang hanya sesekali menunjukkan batang hidungnya.


Beruntung, aku teringat pada sebuah konsep sakti dalam konteks pemberantasan korupsi: INTEGRITAS. Aku menekan mengelus-elus egoku yang protes keras atas rasa keadilan publikku yang terciderai. Aku menegaskan bahwa kesadaran hukum tidak selayaknya digantungkan pada realitas penegakan hukum yang timpang atau karena takut mendapatkan sanksi dan teguran polisi, tapi pada komitmen untuk konsisten pada aturan.

Integritas pribadiku mengingatkan bahwa berlaku adil adalah sesuatu yang baik serta butuh keberanian dan hanya bisa dilakukan oleh pribadi yang merdeka. Maka demi menjaga kewarasan dan mempertahankan kemerdekaan diri dari stimulus negatif yang bersifat eksternal, aku memilih bertahan memenuhi anjuran polisi untuk parkir di sisi timur jalan, sambil berharap agar aparat lebih tegas meneggakkan aturan.


Oh ya, aku juga menanti pak polisi melintas di dekatku, agar aku bisa mengajukan protes sebagai perwujudan penegakan hak warga negara yang merasa diperlakukan tidak adil. Sayang, hingga panggilan pulang tiba, aku tak sempat berjumpa lagi dengan pak polisinya. Maka rasa gondok di hati, aku tumpahkan dalam susunan kalimat pada tulisan ini.


Pernah tayang di sini

17.3.21

Pete-Pete dan Japrut

Standard


[17.03.2021] Jam digital di layar teleponku sudah menunjukkan waktu pukul 05.44 wita. Subuh sudah terlampaui, rona merah perlahan membilas di ufuk timur. Bersama tas ransel dan sebuah kantong kresek berwarna merah, aku teronggok di sebuah halte di bilangan jalan Perintis Kemerdekaan yang sejak dibuat bertahun lampau tak pernah berhasil digunakan.

Mondar mandir kendaraan melintas di jalanan yang posisinya lebih rendah dari lantai halte yang dibiarkan meninggi sekira satu meter lebih, disesuaikan dengan tinggi lantai bus yang akan melayani penumpang yang menanti di halte. Sepertinya demikianlah perencanaan awalnya. Halte ini merupakan properti yang disiapkan untuk moda bus Mamminasata.

Mamminasata merupakan sebuah konsep pengembangan kawasan kota dengan Makassar sebagai pusat serta tiga daerah satelit sebagai penyangga. Mamminasata merupakan akronim dari Makasar, Maros (Kabupaten di Timur Makassar), Sungguminasa (ibu kota Kabupaten Gowa di selatan Makassar), dan Takalar (kabupaten di selatan Makassar).

Aku tiba dari Belopa tepat sesaat sebelum azan subuh berkumandang dari masjid kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel di Tamalanrea Makassar. Aku memilih turun dari bus antar kota yang mengantarku dari ibu kota Kabupaten Luwu sejak pukul 21.56 wita semalam, agar bisa ikut jamaah salat subuh di masjid kompleks.

Di masjid yang belum selesai pembangunannya itu, aku punya kenangan yang lumayan panjang, berbilang tahun. Meski aku bukan kader atau aktivis Muhammadiyah, aku telah merasa bagian dari kisah tempat ini. Mulai dari imam dan muazinnya yang tak tergantikan hingga meninggal, hingga seorang jamaah yang sepertinya tak pernah alpa di shaf terdepan.

Jamaah itu, seorang pensiunan dosen yang kerap kali kurepotkan selama kuliah, bahkan hingga aku bukan lagi tercatat sebagai mahasiswa di kampus, dan dosen itu pun telah purna bakti. Subuh ini, aku tak menegurnya, hanya menatap wajahnya dari saf belakang, itu sudah cukup, mukanya tetap saja teduh. 

Ketika jamaah perlahan berkurang, aku ikut beranjak, menjemput tas ransel dan kantong kresek merahku di belakang pintu. Kupasang sepasang sepatu sekenanya, lalu kutuju halte di depan, duduk di sana, mengetik tulisan ini, hingga sebuah pete-pete kode D jurusan Daya - Makassar Mall, berhenti tepat di depanku. 

Kulirik layar telepon, sudah pukul 06.07 wita. Tergesa, aku melangkah turun dari halte yang pelat lantainya telah berkurang entah karena apa atau siapa. Sigap si sopir membuka pintu depan, untukku. Maka dengan cergas kuangsurkan badanku ke jok depan, tepat di sampingnya. Pintu kututup dengan kencang, pete-pete kembali melaju. Selain aku, dua orang penumpang juga berada di bagian belakang.

Aku merasa beruntung pagi ini, setelah hitungan tahun, baru kali ini aku kembali menggunakan jasa moda transportasi umum, pete-pete. Sejak kumantapkan hati untuk menetap di kota ini di tahun 2008, sudah sangat langka aku naik pete-pete Kerap kali aku melintas jalan, selalu menumpangi kendaraan sendiri, atau diantar oleh kawan, atau oleh istri, atau oleh adik.

Terang saja, aku sempat khawatir tadi, sebab pengalaman mengajarkan bahwa pete-pete kode D adalah jurusan yang paling ramai. Biasanya, baru jam lima subuh, sudah berseliweran. Pagi ini nampak berbeda, selain yang kutumpangi ini, baru satu pete-pete yang kulihat melintas. Entah mengapa, sepertinya populasinya mulai menyusut.

Apakah nasib pete-pete akan menjangkau nasib almarhum bus bertingkat ala DAMRI di tahun 80an? Aku mengingat betul, di zaman itu, kalau aku yang masih bercangkung di bangku sekolah dasar, bila liburan ke Makassar, akan menikmati kota dengan ber-Damri ria dari Sungguminasa ke Pasar Sentral. Aku selalu memilih duduk di kursi depan lantai atas, biar bisa melihat jalan dari ketinggian.

Begitu pete-pete melewati jembatan layang tepat di atas 'kilo empat', aku mengambil ancang-ancang untuk turun dan berpindah jurusan. Itu berarti akan berpindah pete-pete. Aku memilih teriak 'kiri' di seberang rumah sakit yang huruf-huruf pada tulisan namanya tanggal satu persatu, hanya menyisakan rangka besi yang mulai berkarat.

Waktu sudah pukul 06.16 wita saat aku tiba di depan portal jalan masuk rumah sakit. Di sana, aku kembali menanti kedatangan pete-pete, kali ini yang berkode E, jurusan IKIP (sekarang UNM) - Makassar Mall. Tas ranselku tersampir di bahu, kresek merah aku letakkan di trotoar, tepat di sela sepatu yang warnanya mulai letih. Jalanan mulai ramai, cahaya mentari mulai membias. 

Pete-pete dari arah kota-Makassar Mall-Pasar Sentral sudah berangsur ramai oleh pelintas. Jalan Urip Sumoharjo memang merupakan jalur yang lumayan padat di Kota Makassar. Setidaknya ada empat jurusan pete-pete reguler yang melintas di jalan di mana Gedung DPRD dan Kantor Gubernur Sulsel berada, ditambah tiga jurusan pete-pete khusus kampus Unhas di kawasan Tamalanrea.

Selain pete-pete kode E yang sedang kunanti, serta arus balik kode D, juga ada kode I (jurusan SMA 5, aku lupa jurusan resminya), kode G (jurusan Perumnas Antang - Makassar Mall), ditambah tiga jurusan pete-pete khusus kampus Unhas: dari jalan Cenderawasih (05), jalan Veteran (02), dan jalan Kandea (09).

Telah seperempat jam waktu berlalu, belum ada satupun pete-pete kode E yang melintas, sudah tiga kode D yang mampir dan menanyakan tujuanku, empat kode G dan dua kode I yang melaju kencang di hadapanku. Bahkan juga sudah ada pete-pete kampus kode 05 yang berlalu. Kembali, pikiranku soal almarhum bus Damri menyeruak.

Ke mana pete-pete jurusan IKIP? Sudah tak beroperasi sejak jalan tol Pettarani dibangun? Lalu jalurnya dilayani transportasi publik jenis apa? Becak? Sudah jarang terlihat. Becak motor? Terlarang di kawasan ini, meski tetap saja ada yang membandel. Lalu apa? Ojol? Atau apakah pete-pete smart, yang selama ini mengemuka secara politis betul-betul akan hadir?

Tiba-tiba sebuah pete-pete melaju kencang, kulihat kode E terpampang di bagian atas kaca depannya. Aku melambai memanggil sambil setengah berteriak. Karena lumayan kencang, pete-pete itu akhirnya berhenti setelah 20an meter menjauh dari tempatku berdiri. Perlahan dia berjalan mundur, mendekat ke arahku. Kepala sopirnya menoleh ke arahku, "Mau ke mana, Pak?". "Ke Ujung," jawabku. "Naik maki'."

Dua orang penumpang telah mendahuluiku di dalam pete-pete, seorang duduk di depan di samping sopir, seorang lagi di bangku kiri dekat pintu naik. Kuhempaskan pantatku di jok penumpang pas di belakang sopir. Kami berempat lelaki semua, tapi tak semua mengenakan masker. Sang sopir mengenakan masker kain yang dilorotkan ke dagu, penumpang di depan tak bermasker, sementara yang tepat di depanku memakai masker kain model scuba.

Jarum jam menunjukkan waktu pukul 06.32 wita saat pete-pete kembali beranjak. Saat berbelok ke kanan ke jalan Pettarani, suasana pagi yang belum terang betul, bertambah temaram. Kehadiran jalan tol layang Pettarani menghalangi sinar matahari menjangkau permukaan aspal. Pete-pete melaju pelan, tak lebih dari 40kilometer 

Dengan niat menikmati ruas jalan Pettarani yang kian mulus, kucoba menuntaskan kantuk sisa semalam, tapi mata enggan terpejam. Suara berisik dari mesin pete-pete, membuat angutku menguap. Kuraih ponsel dan kulanjutkan catatan ini. Sambil memperbaiki posisi tas di pangkuannya, bapak penumpang yang di depanku, melirik sekilas ke arahku, entah apa yang melintas di pikirannya saat ini.

Pernahkah kita mencoba bertanya-tanya apa yang berkecamuk di benak orang-orang yang melintas dan jalurnya beririsan dengan lintasan kita? Seperti ketiga bapak yang bersamaku di pete-pete ini. Bapak yang di depanku lagi tafakur menatap lantai pete-pete, dari mukanya kelihatan bila dirinya belum mandi, seperti diriku. Ujung sepatunya beberapa kali dia sorong-sorongkan ke arah noda yang menempel di lantai.

Dia yang duduk di samping sopir, usianya lebih tua di antara kami semua. Pandangannya selalu lurus ke depan, tas pakaian teronggok di pangkuannya dalam rangkulan tangan kanan. Sementara tangan kirinya berpegang dengan sedikit cengkeraman pada pintu di sisi kirinya, seperti khawatir entah karena apa. Ini juga membuatku penasaran, cemas apa gerangan yang menegangkannya.

Tiba-tiba pete-pete berbelok masuk ke jalan Pengayoman, jalur yang tak lazim, meski memang terkadang pete-pete memberi jasa pengantaran demikian bila hari masih pagi. Aku diam saja, penumpang lain juga tak ada suara, sopir pun tak memberi alasan. Pete-pete melaju konstan, sampai kemudian ia berputar arah pada u-turn ketiga, lalu berhenti dekat sebuah pintu gerbang kompleks perumahan elite.

Bapak penumpang yang di depan lalu turun, membayar ongkos, tersenyum pada si sopir, menutup pintu, lalu kembali tersenyum pada ibu penjaga kios, lebih tepatnya gerobak jualan yang menjajakan berbagai merek rokok dan minuman instan sasetan. Di sana juga tersedia termos air panas dan gelas plastik untuk langsung menyeduh belanjaan. Pete-pete berlalu, aku kembali menatap ke depan, tak tahu apalagi yang terjadi dengan si bapak selanjutnya.

Tak lama setelah pete-pete kembali melintas di jalan Pettarani, penumpang kedua berteriak 'kiri' sebagai tanda bahwa ia pun akan segera meninggalkan pete-pete. Rem yang berdecit menghentikan pete-pete di seberang jalan Rappocini, beberapa meter dari persimpangan jalan Pettarani dan jalan Hertasning. Saat pete-pete beranjak lagi, kulihat bapak itu berdiri mematut-matut diri di depan warung sate yang masih tertutup.

Kini aku tinggal berdua dengan si sopir, tak ada pertukaran kata di antara kami. Aku fokus melanjutkan tulisan ini, si sopir menjalankan pete-petenya sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri, mungkin melihat kemungkinan adanya penumpang yang menanti, tapi hingga di ujung jalan Pettarani, tempatku akan turun, tak ada pihak ketiga yang menyela kebersamaan kami. Aku menjadi penumpang terakhir di rit.

Kulangkahkan kaki dengan tas ransel kusampir di pundak belakang, tas kresek kutenteng di tangan kanan, aku melangkah sambil menjawab sapa sopir dua pete-pete merah (mobilnya memang berwarna merah), pete-pete yang melayani jurusan Makassar ke luar kota di selatan, seperti ke Sungguminasa atau Takalar, bahkan hingga ke Jeneponto. Sudah pukul 06.44 wita, simpang jalan Pettarani dan jalan Sultan Alauddin itu sudah ramai.

Untuk tiba ke mukimku di jalan Mallengkeri I, biasanya aku masih perlu menggunakan jasa pete-pete merah hingga ke depan perumahan Bumi Permata Hijau (BPH), salah satu perumahan elite di selatan kota, bahkan rumah pribadi salah seorang mantan gubernur Sulsel, berada di dalam kompleks ini. Di seberang kompleks, terdapat mulut jalan Sultan Alauddin III. Dengan menyusur jalan ini ke dalam, kita akan menemui ujung jalan Mallengkeri I.

Namun kali ini aku memilih tak naik pete-pete, aku lebih tertarik untuk jappa paruntang aliran japrut (bahasa prokem untuk aktivitas jalan kaki yang tak berujung pangkal atau tak jelas juntrungannya). Japrut bisa menjadi alternatif aktivitas fisik yang menyehatkan, saat kesempatan untuk berlatih di mesin treadmill agak kasip. Dengan semangat gerilyawan era 40-an, kumantapkan kaki dan hati untuk menempuh jalur dari lorong tikus satu ke lorong tikus lain.

Dari Ujung, aku masuk ke sebuah gang yang aku lupa namanya, tempat salah satu toko buku yang kerap kutempati berbelanja, Al Faraby berada. Toko buku yang tahun ini menderita naas karena terendam banjir. Kejadian yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Banjir kali ini memang lebih parah dari tahun-tahun yang lalu. Tokonya masih tertutup. Dengan tergesa aku menyusur gang hingga keluar di jalan Manuruki II.

Dari sana aku berjalan ke timur, mampir sejenak di pasar kecil Manuruki untuk membeli tiga buah mentimun, lalu berbelok ke kanan menyusur jalan Mamoa Raya, keluar di jalan Mallengkeri Luar. Di jalan yang juga langganan banjir ini, aku menyusur ke timur, melintasi SMP 26 yang seperti sekolah-sekolah lainnya di negeri ini, menjadi seperti kuburan tua selama pandemi.

Jalan Mallengkeri Luar ini bersambung dengan jalan Mallengkeri Utara yang bersimpangan dengan Mallengkeri I. Maka itulah jalur japrut-ku pagi ini. Sepanjang perjalanan, aku berpapasan dengan beberapa remaja putri yang melintas dengan sepeda, remaja putra yang berlari, serta beberapa ibu yang berjalan kaki tanpa alas kaki. Mungkin mereka semua lagi berikhtiar memperbaiki imun tubuh dengan memperbanyak olah fisik, serupa denganku.

Tepat pukul 07.13 wita, aku tiba di depan rumah yang gembok pintu pagarnya masih terpasang. Dengan sedikit teriakan dan ketukan di besi pagar, Mehdi, anak keduaku muncul dan mengangsurkan kunci. Begitu terbuka, aku mengulum salam, mereka (istri dan anak-anakku) membalas salamku, menyambutku dengan senyum. Aku menyimpan tas, menyerahkan kresek, menyambar sarung, lalu masuk kamar mandi, mengguyur sekujur tubuhku dengan air. Sungguh segar, amat segar, mandi pagi-pagi, langsung segar.

Terima kasih, sepatu!